Halim Snapshot Blogger Galery Foto Kegiatan

December 13th, 2014 No comments

Banyaknya foto yang mengendap membuat penulis mengembangkan ide untuk membuat blog khusus foto. Setelah beberapa kali berfikir dan melihat rujukan-rujukan blog sejenis di jagad maya, penulis membuat blog bernama Halim Snapshot, dapat diakses di HalimSnapshot.blospot.com  Halim merupakan nama penulis, sedangkan Snapshot adalah gambar atau foto hasil jepretan kamera dan alat foto lainya.

Halim Snapshot digunakan penulis sebagai wadah untuk men share berbagai foto-foto menarik, utamanya yang diambil oleh penulis sendiri. Foto-foto tersebut berasal dari kegiatan, even dan berbagai aktivitas yang diikuti penulis baik langsung maupun tidak langsung. Tema-temanya mulai dari gedung-gedung, acara-acara kemahasiswaan, acara ma’had dimana penulis mengabdi hingga foto-foto keren yang penulis dapatkan dari dunia maya.

Halim Snapshot Blogger

Halim Snapshot Blogger

 

Bila dilihat, foto yang diupload memang sebagian memiliki watermark. Watermark adalah sebuah tanda, seperti stampel yang disematkan pada sebuah foto. Foto yang ber watermark tersebut berarti apa yang telah diikuti secara langsung maupun tidak langsung oleh penulis. Selain itu, agar mereka yang mencari foto-foto tersebut dapat menemukanya secara mudah karena telah diberi arahan sumber foto.

Pemilihan blog berplatform blogspot yang dimiliki google dikarenakan beberapa alasan. Gratis dan tidak ada penghapusan blog merupakan salah satu catatan dan poin penting dalam pemilihan platform ini. Kemudian, kemudahan dalam penggunaan dan interfacenya memudahkan penulis dalam menggunakanya. Fitur konektifitasnya dengan akun google juga merupakan salah satu alasan mengapa dipilihnya platform blogspot.

Halim Snapshot menggunakan blogger akan mudah terindeks kedalam mesin pencari paling populer yaitu google. Selain itu, fitur auto sharenya juga memudahkan pembaca melihat hal-hal baru yang ada di blog ini. Semoga sukses selalu untuk HalimSnapshot.blogspot.com

Categories: Catatanku Tags:

Manajemen Kesiswaan atau Manajemen Peserta Didik

December 3rd, 2014 No comments

Manajemen peserta didik merupakan salah satu bagian dari manajemen berbasis sekolah secara keseluruhan. Manajemen berbasis sekolah tersebut meliputi manajemen pembelajaran berbasis sekolah, manajemen peserta didik berbasis sekolah, manajemen tenaga kependidikan, manajemen sarana dan prasarana, manajemen keuangan, manajemen kelas, manajemen hubungan sekolah dan masyarakat, serta manajemen layanan khusus pendidikan berbasis sekolah.[1] Sebagaimana manajemen pada umumnya, peserta didik harus dikelola dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengontrolan.

Manajemen peserta didik menduduki tempat yang sangat penting, karena sentral layanan pendidikan di sekolah adalah peserta didik. Semua kegiatan yang ada di sekolah, baik yang berkenaan dengan manajemen pembelajaran, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, keuangan, hubungan masyarakat maupun layanan khusus, kesemuanya diarahkan agar peserta didik mendapatkan layanan pendidikan yang andal dan bermutu.

Manajemen kesiswaan atau peserta didik yaitu seluruh proses kegiatan yang direncanakan dan diusahakan secara sengaja serta pembinaan secara kontinyu terhadap seluruh peserta didik agar dapat mengikuti proses belajar mengajar secara efektif dan efisien mulai dari penerimaan peserta didik hingga keluarnya peserta didik dari suatu sekolah.[2] Dalam hal ini, proses belajar mengajar tidak hanya diartikan sebagai kegiatan pembelajaran di kelas, namun juga di luar kelas sehingga seluruh aktifitas siswa juga harus dimanage dengan baik.

Manajemen kesiswaan bertujuan untuk mengatur berbagai kegiatan dalam bidang kesiswaan agar kegiatan pembelajaran di sekolah dapat berjalan lancar, tertib, teratur serta dapat mencapaitujuan pendidikan sekolah. Secara umum, manajemen kesiswaan meliputi empat kegiatan, yaitu: penerimaan siswa baru, kegiatan proses belajar, bimbingan dan  pembinaan disiplin serta monitoring.[3] Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dibuatlah sebuah sistematika dan aturan-aturan agar program yang dijalankan dapat efektif dan efisien.

[1] Ali Imron, Manajemen Peserta Didik berbasis Sekolah, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011), hlm. 1

[2] Ary Gunawan, Administrasi Sekolah, Administrasi Pendidikan Mikro, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1996), hal. 9

[3] Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2003), hal. 46

Categories: Pendidikan Islam Tags:

Serah Terima Jabatan OSIMA Man 3 Malang

November 3rd, 2014 No comments

Sertijab atau serah terima jabatan OSIMA (Organisasi Santri Ma’had) al Qalam Man 3 Malang diadakan Kamis malang 23 Oktober 2014. Acara ini berlangsung di Aula/ Hall Man 3 Malang. Dihadiri oleh seluruh santri dan santriwati ma’had al Qalam, Ketua ma;had, asatidz dan ustadzah pembimbing ma’had.

Acara ini merupakan kegiatan tahunan santriwan dan santriwati ma’had al Qalam Man 3 Malang. Kegiatan ini juga sebagai wahana pembelajaran berorganisasi agar mereka lebih memiliki kompetensi dalam hal kerjasama, keorganisasian, dan kepemimpinan.

Patah tumbuh, hilang berganti. Sebelum patah sudah tumbuh, sebelum hilang telah berganti. Begitulah regenerasi keorganisasian di ma’had al Qalam Man 3 Malang. Mereka yang menjadi pengurus organisasi telah menginjak kepada kelas 3 MA, sehingga harus fokus pada belajar menghadapi ujian akhir sekolah. Maka, adik-adik mereka di kelas dua dan sebagian lagi dari kelas satu menjadi pengurus baru yang menggantikan pengurus yang lama.

Menajdi lebih baik daripada hari kemarin. Ya, itu merupakan moto abadi setiap organisasi, tak terkecuali bagi OSIMA Man 3 Malang. Semoga bergantinya nahkoda dan kru ini dapat meneruskan tradisi organisasi yang baik dan juga menambah kegiatan baru juga membuat sesuatu yang baru agar derap langkah keorganisasian menjadi lebih baik lagi.

berikut foto-foto yang diambil penulis dan dipostingkan di blogkhusus foto di halimsnapshot

serah terima jabatan pengurus OSIMA Organisasi santri Ma'had al Qalam Man 3 Malang 2014

serah terima jabatan pengurus OSIMA Organisasi santri Ma'had al Qalam Man 3 Malang

 

Sertijab pengurus OSIMA Organisasi santri Ma'had al Qalam Man 3 Malang

Teori dan Ayat Al-Qur’an tentang Organisasi dan Pengorganisasian

October 30th, 2014 No comments

Inilah kajian tentang Teori dan Ayat Al-Qur’an tentang Organisasi dan Pengorganisasian. Disini kita dituntut untuk membahas satu persatu kemudian dikaitkan dengan ayat-ayat yang ada dalam al-Qur’an sebagai proses integrasi antara Islam dan Ilmu Pengetahuan.

Menurut buku Tesaurus Bahasa Indonesia, organisasi berarti badan, institusi, institut, lembaga, wadah. Bisa juga berarti formasi, jaringan, komposisi, konfigurasi, konstruksi, pola dan sistem. Sedangkan pengorganisasian berarti koordinasi, mobilisasi, pengaturan, pengelolaan, penyusunan dan sistematisasi.[1]

pengertian dan ayat organisasi dan pengorganisasian

Kata organisasi bila merujuk kepada kamus besar bahasa Indonesia berarti kesatuan (susunan dsb) yg terdiri atas bagian-bagian (orang dsb) dl perkumpulan dsb untuk tujuan tertentu; atau kelompok kerja sama antara orang-orang yg diadakan untuk mencapai tujuan bersama;[2] Teori dan Ayat Al-Qur’an tentang Organisasi dan Pengorganisasian.

Istilah pengertian organisasi berasal dari kata organum, yang berarti alat, bagian atau komponen-komponen. Di dalam pendekatan manajemen, istilah organisasi mempunyai dua arti umum. Arti pertama mengacu pada suatu lembaga atau kelompok fungsional. Arti kedua mengacu pada proses pengorganisasian, yaitu cara pengaturan pekerjaan dan pengalokasian pekerjaan diantara anggota organisasi, sehingga organisasi diharapkan melaksanaakan fungsi penting untuk membantu ketidak mampuan anggota sebagai individu dalam rangka mencapai tujuan yang sulit atau bahkan tidak mungkin dicapai sendiri.[3]

Secara singkat, pengertian organisasi berarti suatu system kerja sama di antara sekelompok orang demi mencapai tujuan yang disepakati bersama.[4] Dari definisi ini, dapat kita ambil unsur-unsur yang ada dalam organisasi, yakni: adanya tujuan yang dirumuskan atau disepakati oleh anggota organisasi, adanya interaksi dan kerjasama dalam menyelenggarakan organisasi demi pencapaian tujuan.

ayat tentang organisasi sebagai berikut… Interaksi antar manusia sebenarnya tidak hanya terjadi dalam organisasi. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang berinteraksi dengan lainya sehingga tujuanya tercapai. Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa penciptaan manusia yang beranekaragam ditujukan untuk saling mengenal, dan proses pengenalan membutuhkan sebuah interaksi sosial. Allah ta’ala berfirman:

Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal (Al-Hujuraat: 13)

pengertian Pengorganisasian atau organizing secara alamiah merupakan fase kedua (setelah planning) dari setiap sistem organisasi besar atau sekecil apapun. Dikatakan secara alamiah sebab fakta organizing tersebut secara logical ataupun factual berlaku dimanapun dan kapanpun walaupun dalam bentuk sederhana. Semua ini merupakan sistem penciptaan Allah Swt yang bersifat intangible (ada fakta sekalipun tidak bisa diraba). Kalaulah seandainya terdapat organisasi yang tidak menjalankan fungsi organizing (sekalipun terdapat planning yang komprehensif) maka tidak akan pernah berjalan atau berhasil secara optimal melainkan hanya unsur kebetulan.

Dalam hal pengorganisasian, keteraturan dan disiplin menjadi kata kunci bila ingin meraih kesuksesan. Keteraturan bisa dalam struktur yang berarti tertib dalam pembagian kewajiban dan hak, serta bila dalam proses berarti apa yang akan dilakukan telah disusun secara sistematis dan dapat diaplikasikan atau diwujudkan. Sedangkan disiplin merupakan unsur yang akan mendukung dan menjamin kesuksesan program yang telah teratur. Dalam hal ini Allah swt berfirman dala Al Qur’an surat ash-Shaff ayat 4, merupakan ayat lain tentang pengorganisasian atau organizing:

Artinya: Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.

Ayat pengorganisasian diibaratkan sebagai shaff yang lurus. Dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur`an, disebutkan bahwa berjihad di jalan Allah harus dalam suatu shaff atau barisan. As-shaff berarti posisi yang kokoh, bertahan kuat dan teratur. Seseorang tidak akan bisa berjalan dengan sendirinya secara individual, melainkan ia harus berada dalam koridor jama’ah. Islam tidak mungkin berdiri melainkan dalam jaringan jama’ah yang terorganisasi rapi dan terikat dengan kokoh, memiliki sistem dan memiliki sasaran jama’ah yang bergantung dalam waktu yang bersamaan kepada setiap individu didalamnya.[5] Barisan kokoh inilah yang akan menjadi landasan utama sebuah organisasi disertai dengan keteraturan dan kekokohan individu didaalamnya. Selain itu haruslah tertanam ruh Islam sehingga apa yang dilakukan merupakan ibadah sebagaimana maksud Allah menciptakan manusia dimuka bumi ini.

Pengorganisasian berarti aplikasi dari planing yang telah ditetapkan sebelumnya. Agar pengorganisasian berlangsung lancar, maka diperlukan langkah-langkah yang teratur. Secara garis besar langkah-langkah melakukan proses pengorganisaiaan adalah sebagai berikut[6] :

  • Merinci seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan organisasi agar sesuai dengan visi dan misinya.
  • Membagi beban kerja ke dalam aktivitas yang secara logis dan memadai dapat dilakukan oleh seseorang atau oleh sekelompok orang.
  • Mengkombinasikan pekerjaan anggota organisasi dengan cara logis dan efisien
  • Menetapkan mekanisme untuk mengkoordinasikan pekerjaan anggota organisasi dalam satu kesatuan yang harmonis.
  • Memantau efektivitas organisasi dan mengambil langkah-langkah penyesuaian untuk mempertahankan atau meningkatkan efektivitas.

Asas organisasi merupakan berbagai pedoman yang secara maksimal hendaknya dilaksanakan agar diperoleh satu struktur organisasi yang baik. Ada 9 faktor yang mempengaruhi rincian asas organisasi, yaitu: perumusan tujuan organisasi, departemenisaisi, pembagian kerja,koordinasi,pelimpahan wewenang, rentang kendali, jenjang organisasi, kesatuan perintah, dan fleksibilitas.

Langkah pertama dalam pengorganisasian diwujudkan melalui perencanaan dengan menetapkan bidang-bidang atau fungsi-fungsi yang termasuk ruang lingkup kegiatan yang akan diselenggarakan oleh suatu kelompok kerjasama tertentu. Keseluruhan pembidangan itu sebagai suatu kesatuan merupakan total sistem yang bergerak ke arah satu tujuan. Dengan demikian, setiap pembidangan kerja dapat ditempatkan sebagai sub sistem yang mengemban sejumlah tugas yang sejenis sebagai bagian dari keseluruhan kegiatan yang diemban oleh kelompok-kelompok kerjasama tersebut.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses pengorganisasian yaitu: 1) perlunya musyawarah dalam pembagian kerja sehingga setiap bagian dapat melaksanakan programnya dengan baik, dan 2) perlunya keteraturan dalam perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi program kerja.

[1] Eko Endarmoko, Tesaurus bahasa Indonesia, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2007), hal. 438

[2] Indonesia. Departemen Pendidikan Nasional, Pusat Bahasa (Indonesia), Kamus besar bahasa Indonesia Pusat Bahasa, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008)

[3] Husein Umar, Business an Introduction, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003), hal. 58

[4] Suparjati, dkk,Tata Usaha dan Kearsipan, (Yogyakarta: Kanisius,2000 ), hal.1

[5] Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil-Qur’an Jilid 11, (Jakarta: Gema Insani Press, 2004), hal. 252

[6] Op. Cit., Husein Umar, Business an Introduction… hal. 60

Isi Pendahuluan dalam Penelitian Kualitatif

October 28th, 2014 No comments

Pendahuluan adalah awal, dan inilah isi pendahuluan dalam Penelitian Kualitatif. Dalam pendahuluan atau BAB I Tesis, setidaknya memuat tiga aspek penting yaitu: Dassolen, dassein, dan alternatif. Berikut kami jabarkan sedikit dan lugas tentang apa yang dimaksudkan dengan hal-hal diatas.

isi pendahuluan dalam penelitian kualitatif

Dassolen berarti apa yang seharusnya, yang ideal dan bersifat teoritik. Dalam hal ini peneliti harus mendefinisikan variabel yang ada kemudian menghubungkan antara satu dengan lainya. Hubungan tersebut membentuk suatu keadaan yang ideal, sempurna dan masih bersifat dalam ranah teoritik.

Dassein, berisi stigma negatif atas teori diatas yang sempurna. Anomali yaitu penyimpangan atau keanehan yang terjadi atau dengan kata lain tidak seperti biasanya. Hal ini berdasarkan data penelitian, bersifat lapangan dan nyata. Sumbernya bisa penelitian sebelumnya, survey, atau laporan penelitian.

Selanjutnya adalah alternatif, berisi gambaran tentang situs yang diteliti. Dengan mendebat sisi dassein yang berstigma negatif, bagian ini berusaha menggambarkan sisi-sisi keunggulan, hal yang menarik, unik dan berbeda dengan situs lainya dari situs yang akan diteliti. Bagian ini juga yang menjadi jawaban atas pertanyaan, “Mengapa anda memilih situs ini untuk penelitian?”

*Catatan Kuliah Seminar Proposal Tesis bersama Dr. H. Munirul Abidin, M.Ag, MPI A, Gedung A Uin Maliki, 28/10/2014

Categories: Kuliah Islam Tags: ,

Landasan Filosofis Ilmu Pengetahuan

October 27th, 2014 No comments

Landasan Filosofis Ilmu Pengetahuan. penulis akan mencoba memaparkan review salah satu tulisan yang dimuat dalam jurnal Tsaqafah, Institut Studi Islam Darussalam (ISID), Pondok Gontor, Volume 8, tahun 2012. Tulisan ini berjudul, “Problem Keilmuan Kontemporer dan Pengaruhnya terhadap Dunia Pendidikan”, dengan penulisnya adalah Mohammad Muslih.

Dari proses analisa terhadap tulisan dalam jurnal ini, penulis menemukan poin penting yang melandasi tulisan tersebut. Proses dan hasil keilmuan pada jenis ilmu apapun, ternyata sangat ditentukan oleh landasan filosofis yang mendasarinya, yang memang berfungsi memberikan kerangka, mengarahkan, menentukan corak dari keilmuan yang dihasilkanya. Landasan filosofis yang dimaksud adalah asumsi dasar, paradigma keilmuan dan kerangka teori (Theoritical Framework). Ketiga inilah yang lazim disebut sebagai filsafat ilmu atau filsafat keilmuan. Kerja ketiga landasan filosofis ini, memang tidak serta merta bisa ditunjukkan dalam wilayah praktis, namun jelas sangat menentukan corak ilmu yang dihasilkan. Dalam sejarah perkembangan ilmu, ketiga hal ini memiliki keterkaitan tidak saja historis namun juga sistematis. Disebut demikian, karena suatu paradigma tertentu lahir berdasarkan asumsi dasa tertentu, begitupula teori tertentu bekerja tidak keluar dari wilayah paradigmanya. Dengan demikian bisa dikatakan, hubungan ketiganya mengambil bentuk kerucut, dalam arti mulai dari yang umum ke yang lebih khusus.[1]

jurnal Tsaqafah isid gontor

Dari bagan segitiga disamping dapat dilihat bahwa ilmu-ilmu lahir dari atau sangat ditentukan oleh kerangka teori (Theoritical Framework) yang mendasarinya, yang wilayahnya lebih umum (baca: lebih abstrak dan filosofis. Sementara kerangka teori lahir dari paradigma tertentu yang sifatnya juga lebih umum, begitupula paradigma tertentu juga lahir dari/berdasarkan asumsi-asumsi yang mendasarinya.

Asumsi dasar proses keilmuan diidentifikasi oleh filsafat ilmu menjadi beberapa aliran pemikiran, yang meliputi: rasionalisme[2], empirisme[3], kritisme dan intuisionisme[4], sementara paradigma keilmuan (dalam tradisi sains) meliputi: positivisme[5], post-positivisme[6], konstruktivisme[7] dan teori kritis (critical theory). Masing-masing paraadigma tersebut bisa mencakup beberapa kerangka teori, yang ssecara serius dibangun dan ditawarkan oleh seorang ilmuwan atau kelompok ilmuwan tertentu.

landasan filosofis ilmu pengetahuan

Dari sini bisa dipahami, jika beberapa ilmu kemudian dapat diklasifikasikan menurut kesamaan karakteristiknya, yakni atas dasar kesamaan teori atau paradigmanya. Misalnya seperti apa yang dilakukan Habermas, sebagaimana telah diuraikan diatas.

Menurut hakikat dan sebab-musabab keberadaannya, Filsafat Ilmu Pengetahuan merupakan  sublimasi atau intisari dan berfungsi sebagai pengendali moral  daripada pluralitas keberadaan ilmu pengetahuan. Hal ini berarti keberadaan Filsafat Ilmu Pengetahuan berfungsi sebagai bidang studi filsafat praktis dan bersifat normatif . Dengan keberadaannya dalam konteks pluralitas ilmu pengetahuan itu, maka Filsafat Ilmu Pengetahuan berkepentingnan pada nilai kebenaran ilmiah dan kegunaannya. Kedua nilai ini dibangun dalam satu kesatuan sistem, sehingga keberadaan  pluralitas ilmu pengetahuan tetap terikat dalam sikap (pandang) ilmiah yang bersifat interdisipliner dan multidisipliner. Sedemikian rupa sehingga jalan dan metode pemberdayaan ilmu pengetahuan dan teknologi secara pragmatis bagi kelangsungan kehidupan yang berkeadilan menjadi jelas dan tepat.[8]

Ilmu sekadar  merupakan pengetahuan yang mempunyai kegunaan praktis yang dapat membantu kehidupan manusia secara pragmatis.[9]Dari bagan di atas bisa dilihat bahwa ilmu-ilmu lahir dari atau sangat ditentukan oleh kerangka teori (theoretical framework) yang mendasarinya, yang “wilayahnya” lebih umum, sementara kerangka teori lahir dari paradigma tertentu yang sifatnya juga lebih umum, begitu pula paradigma tertentu juga lahir dari/berdasarkan asumsi yang mendasarinya.[10]

[1] Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu, Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta: Belukar: 2004), hlm.40

[2] Rasionalisme atau gerakan rasionalis adalah doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta, daripada melalui iman, dogma, atau ajaran agama. Rasionalisme mempunyai kemiripan dari segi ideologi dan tujuan dengan humanisme dan atheisme, dalam hal bahwa mereka bertujuan untuk menyediakan sebuah wahana bagi diskursus sosial dan filsafat di luar kepercayaan keagamaan atau takhayul.

[3] Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia. Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Empirisme lahir di Inggris dengan tiga eksponennya adalah David Hume, George Berkeley dan John Locke.

[4] Suatu anggapan bahwa ilmu pengetahuan dapat dicapai dengan pemahaman langsung; berlawanan dengan proses pemikiran yang sadar atau persepsi yang langsung; anggapan bahwa kewajiban moral tidak dapat disimpulkan sendiri 9tanpa pertolongan Tuhan). Lihat: Pius A Partanto, M. Dahlan al-Barry, Kamus Ilmiyah Populer, (Surabaya, Arloka: 1994)

[5] Anggapan bahwa yang berarti itu hanya proposisi analitik yang dapat dibuktikan kebenaranya secara empiris.

[6] Post Positivisme lawan dari positivisme: cara berpikir yg subjektif Asumsi terhadap realitas. Kebenaran subjektif dan tergantung pada konteks value, kultur, tradisi, kebiasaan, dan keyakinan.

[7] Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan  dan menjadi lebih dinamis.

[8] Suparlan Suhartono, Ph.D, Filsafat Ilmu pengetahuan (Jogjakarta, ar-Ruzz Media: 2005), hlm.35

[9] Jujun S Suriasumantri, Filsafat Ilmu sebuah pengantar populer (Jakarta, Pustaka sinar harapan: 1996), hlm.72

[10] Op.Cit, Muslih, hlm. 40

Pengertian Mutu Pendidikan

October 24th, 2014 No comments

Untuk mendefinisikan pengertian mutu pendidikan, harus dipahami arti dari masing-masing kata dari mutu dan pendidikan. mutu  adalah kesesuaian produk/layanan dengan persyaratan yang ditetapkan konsumen. Mears (1993) mendefinisikan mutu  sebagai suatu sistem yang dilaksanakan dalam jangka panjang dan terus menerus untuk memuaskan konsumen dengan meningkatkan kualitas produk perusahaan atau yang lainnya dalam bahasa yang seragam, disesuaikan dengan perubahan yang menyangkut kebutuhan, keinginan dan selera konsumen.[1]

pengertian mutu pendidikan

Mutu pendidikan  merupakan suatu konsep manajemen pendidikan yang berusaha untuk merespons secara tepat terhadap setiap perubahan yang ada, baik yang didorong Oleh kekuatan eksternal maupun internal. Mutu lebih berfokus pada tujuan perusahaan atau pendidikan  untuk melayani kebutuhan pelanggan atau siswa  dengan memasok barang dan jasa yang memiliki kualitas setinggi mungkin.

Ada beberapa  karakteristik yang tercakup dalam unsur-unsur mutu, yang meliputi:

  1. Fokus pada pelanggan eksternal dan internal
  2. Memiliki obsesi tinggi terhadap kualitas
  3. Pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah
  4. Adanya komitmen jangka panjang
  5. Kerja sama tim
  6. Adanya keterlibatan dan pemberdayaan pengelola pendidikan karyawan
  7. Perbaikan proses secara berkesinambungan
  8. Adanya pendidikan dan pelatihan pengelola pendi karyawan yang bersifat bottom-up
  9. Adanya kebebasan yang terkendali

[1] Nursya’ Bani Purnama. Manajemen Kualitas Prespektif Global, (Yogyakarta: Ekonisia, 2006), hlm. 51

Ruang Lingkup Materi Pendidikan Agama Islam (PAI)

October 21st, 2014 No comments

Ruang lingkup materi PAI di dalam kurikulum 1994 sebagaimana dikutip oleh Muhaimin pada dasarnya mencakup tujuh unsur pokok, yaitu: Al-Qur’an-Hadist, keimanan, syari’ah, ibadah, muamalah, akhlak, dan tarikh. Pada kurikulum tahun 1999 dipadatkan menjadi lima unsur pokok, yaitu: Al-Qur’an, keimanan, akhlak, fikih dan bimbingan ibadah serta tarikh yang lebih menekankan pada perkembangan ajaran agama, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam itu secara keseluruhannya dalam  lingkup: Al-Qur’an  dan al-hadis, keimanan, akhlak, fiqih / ibadah, dan sejarah, sekaligus menggambarkan bahwa ruang lingkup pendidikan agama Islam mencakup perwujudan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT, diri sendiri, sesama manusia, makhluk lainnya maupun lingkungannya.[1]

ruang lingkung materi pai

Unsur-unsur pokok materi kurikulum PAI yang tersebut di atas masih terkesan bersifat umum dan luas. Perlu ditata kembali menurut kemampuan siswa dan jenjang pendidikannya. Dalam arti, kemampuan-kemampuan apa yang diharapkan dari lulusan jenjang pendidikan tertentu sebagai hasil dari pembelajaran PAI.

Dalam GBPP mata pelajaran PAI kurikulum 1994 sebagaimana dikuti oleh Muhaimin, dijelaskan bahwa pada jenjang Pendidikan Menengah, kemampuan-kemampuan dasar yang diharapkan dari lulusannya adalah dengan landasan iman yang benar, siswa:

  1. Taat beribadah, mampu berdzikir dan berdo’a serta mampu menjadi imam; anak pada usia SMA dapat menjalankan rukun Islam, terutama sahadat, salat, zakat, dan puasa. Anak diharapkan juga mampu mengagungkan asma Allah, serta mampu memimpin salat.
  2. Mampu membaca Al-qur’an dan menulisnya dengan benar serta berusaha memahami kandungan maknanya terutama yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama yang relevan dengan apa yang diketahui di lingkungan sekitarnya.
  3. Memiliki kepribadian muslim, artinya di dalam diri anak selalu terpancar kesalehan pribadi dengan selalu menampakkan kebajikan yang patut dipertahankan dan diteladani untuk ukuran sebaya.
  4. Memahami, menghayati dan mengambil manfaat sejarah dan perkembangan agama Islam, dalam hal ini disesuaikan dengan kemampuannya.
  5. Mampu menerapkan prinsip-prinsip muamalah dan syari’at Islam dengan baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, dalam arti mampu menerapkan hubungan sesama makhluk dengan memperhatikan hukum Islam dan pengetahuan tentang agama Islam yang memiliki anak usia SMA.[2]

Agar kemampuan-kemampuan lulusan atau out put yang diharapkan itu bisa tercapai, maka tugas Guru pendidikan agama Islam adalah berusaha secara sadar untuk membimbing, mengajar, dan melatih siswa sebagai siswa agar dapat: (1) meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga; (2) menyalurkan bakat dan minatnya dalam mendalami bidang agama serta mengembangkannya secara optimal, sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan dapat pula bermanfaat bagi orang lain; (3) memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahannya dalam keyakinan, pemahaman dan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari; (4) menangkal dan mencegah pengaruh negatif dari kepercayaan, paham atau budaya lain yang membahayakan dan menghambat perkembangan keyakinan siswa; (5) menyesuaikan diri dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial yang sesuai dengan ajaran Islam; (6) menjadikan ajaran Islam sebagai pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat; dan (7) mampu memahami, mengilmui pengetahuan agama Islam secara menyeluruh sesuai dengan daya serap siswa dan keterbatasan waktu yang tersedia.[3]

[1]Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004 (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2004), hal. 131.

[2]Muhaimin, dkk. Paradigma Pendidikan  Islam, Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam  Di Sekolah…….,hal. 81.

[3]Ibid., hal. 83.

Teori dan Pendapat Pemimpin dilahirkan atau dibentuk?

Pemimpin dilahirkan atau dibentuk? Apakah memang ada DNA kepemimpinan sehingga ia dilahirkan, ataukah melewati tempaaan agar bisa memimpin? Dua asumsi yang sama-sama ringan sebenarnya, namun penjelasanya bisa agak pelik juga.

Leadership is the art of influence and act the people. Kepemimpinan adalah seni mempengaruhi dan menggerakkan oranglain. Mempengaruhi oranglain berarti ia memiliki kecerdasan dalam menstimulus oranglain, memiliki gagasan-gagasan baru dan ideal untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Menggerakkan berarti dengan cara mempengaruhi oranglain, maka pengikutnya akan ikut bergerak, menjadi panutan, memberikan komando, dan membimbing oranglain dalam menjalankan roda pergerakan.

teori pemimpin dilahirkan atau dibentuk

Lalu, dilahirkan atau dibentuk? Banyak prespektif. Teori genetik mengatakan pemimpin dilahirkan, karena memang ada pembawaan yang rbeda dengan kebanyakan orang, ibaratnya buah yang jatuh tak akan jauh dari pohonya. Teori kejiwaan sebaliknya, berpendapat setiap manusia memiliki bakat memimpin, maka pembentukanlah (pendidikan, pelatihan dan pendadaran) yang menjadikan seseorang cakap dalam memimpin. Teori ekologik, mencoba mempersatukan keduanya, pemimpin adalah pertemuan antara bakat lahir dan pembentukan. Teori kontigensi, mensyaratkan bakat kepemimpinan, pengalaman pendidikan ditambah dengan kegiatan pribadi yang membentukya menjadi pemimpin.

Pendapat diatas tentunya  didasarkan pada asumsi atau hipotesis belaka, namun juga memiliki bukti dan rekam jejak sejarah masing-masing teori. Keempatnya bisa digunakan untuk menjelaskan apakah pemimpin dilahirkan ataupun dibentuk.

Tentunya, masing-masing dari kita juga memiliki konsep masing-masing dan jawaban tersendiri atas pertanyaan ini, begitupula penulis. Bila kepemimpinan adalah seni mempengaruhi dan menggerakkan oranglain, maka tiap orang bisa dididik atau dibentuk untuk itu, tanpa melihat ada tidaknya bakat. Penulis sendiri mengikuti teori bahwa keberhasilan adalah buah dari 99% kerja keras, dan 1% merupakan bakat atau pembawaan.

Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Fitrah menurut hemat penulis, adalah pembawaan dan modalitas dasar, setiap orang memilikinya, namun mungkin preferensi tiap orang berbeda-beda, itu juga merupakan fitrah. Bisa jadi potensi kepemimpinan anda lebih tinggi daripada apa yang penulis miliki, bisa juga sebaliknya.

Faktor selanjutnya adalah pembentukan, dalam hal ini modalitas mana yang akan dibentuk dan ditingkatkan. Bila modalitas kepemimpinan yang ingin ditingkatkan, maka dia bisa memimpin walau yang modalitasnya rendah sekalipun. Modalitas yang tinggi pastinya akan disebut sebagai peembawaan atau bakat. Namun, seseorang akan mengikuti apa yang ia kehendaki. Walau telah dididik dan ditempa, tanpa kesadaran akan diri sendiri maka hasil tempaan tidak akan maksimal. Hasil maksimal akan bisa diperoleh dari keinginan kuat dalam diri, ditambah dengan tempaan dan modalitas pembawaannya. Your habits it’s you. Wallahu a’lam bishowab…

Believe Percaya Setelah kesulitan ada kemudahan

Believe Believe Percaya Setelah kesulitan ada kemudahan. Ketika keadaan tak bisa dikendalikan, impian tak tersampaikan, itulah ujian kehidupan dan sikapilah dengan ‘believe’. Believe atau percaya kepada Allah Swt bahwa sesuatu yang baik sedang menunggu kita disana, dimasa depan, yang kita mungkin tidak bisa menebak-nebaknya sekarang.

Believe bukan hanya sebuah kepercayaan, namun juga merupakan kekuatan untuk terus maju. Bukan hanya agar bisa move on(bergerak lagi), tapi menjadikan kita bisa moving forward (maju kedepan). Believe juga merupakan sebuah obat mujarab, dimana setiap khasiatnya akan menguatkan sendi-sendi perasaan, pikiran dan juga penfokusan kekuatan. Believe menggerakkan kita untuk melakukan hal-hal yang lebih positif, dari sekedar pelampiasan kegusaran negatif. Believe Percaya Setelah kesulitan ada kemudahan.

Believe bukan sebuah materi yang kasat mata, ia merupakan sesuatu aset yang tak tampak atau untangible asset. Pada umumnya segala sesuatu memiliki hal yang tak tampak, sebagaimana karakter, sifat, pembawaan, kebiasaan dan lain sebagainya. Namun sebenarnya hal yang tak tampak itulah yang menjadikan sesuatu itu berbeda dengan yang lainya. Maka penting bagi kita untuk mengembangkan aset tak kasat mata, sebagai modal untuk mengembangkan apa yang kasat mata.

Segala sesuatu memiliki rintanganya masing-masing. Begitupula ketika seseorang menetapkan diri untuk believe pada Allah Swt atas segala permasalahan yang ada. Kadang otak rasional kita terlalu dipaksakan sehingga tak jarang meninggalkan Tuhan. Segala permasalahan seakan bisa diselesaikan hanya dengan pemikiran, dengan modal yang kelihatan dan cara mekanistis hasil kerja otak. Memang bisa, namun kontrol akhir, hasil akhir tak bisa dipastikan oleh otak, itulah takdir.

percaya setelah kesulitan ada kemudahan

Believe Percaya Setelah kesulitan ada kemudahan. Sudah selayaknya bila kita menginginkan sesuatu, cobalah untuk berkomunikasi dengan Allah Swt. Bukan hanya karena Dia lebih dekat daripada urat nadi, Dia pula Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia Maha Pemberi Rezeki, Pemberi Kekuatan, Laa haula walaa quwwata illa billah, tak ada daya upaya melainkan atas izin Allah Swt. Namun biasanya kita hanya tahu bahwa Allah Swt adalah Tuhan kita, belum naik pada tataran keimanan atau believe.

Bila memang kita beriman pada-Nya, sudah selayaknya segaala urusan kita minta kepada-Nya. Bukankah Dia selalu mengatakan untuk meminta apapun kepada-Nya, maka dianjurkanlah kita untuk berdo’a. Bukan malah sok pintar dengan mencari solusi sendiri. Memang bisa solusi sendiri dicari dan digunakan untuk menyelesaikan masalah, tapi percayalah itu hanya bersifat temporer/ sementara.

Ketenangan jiwa, kedamaian batin bisa diraih dengan beriman kepada-Nya. Tentunya bukan hanya tahu, melainkan juga melimpahkan segala sesuatu pada-Nya, sehingga apa yang kita lakukan dituntun oleh-Nya. Percaya bahwa dibalik segala ujian, setelah semua kegusaran dan kesulitan dalam kehidupan, ada suatu kebaikan yang akan datang, itulah believe. Wallahu a’lam bishowab…

Categories: Catatanku, Hikmah Tags: , ,