Pengertian Mutu Pendidikan

October 24th, 2014 No comments

Untuk mendefinisikan pengertian mutu pendidikan, harus dipahami arti dari masing-masing kata dari mutu dan pendidikan. mutu  adalah kesesuaian produk/layanan dengan persyaratan yang ditetapkan konsumen. Mears (1993) mendefinisikan mutu  sebagai suatu sistem yang dilaksanakan dalam jangka panjang dan terus menerus untuk memuaskan konsumen dengan meningkatkan kualitas produk perusahaan atau yang lainnya dalam bahasa yang seragam, disesuaikan dengan perubahan yang menyangkut kebutuhan, keinginan dan selera konsumen.[1]

pengertian mutu pendidikan

Mutu pendidikan  merupakan suatu konsep manajemen pendidikan yang berusaha untuk merespons secara tepat terhadap setiap perubahan yang ada, baik yang didorong Oleh kekuatan eksternal maupun internal. Mutu lebih berfokus pada tujuan perusahaan atau pendidikan  untuk melayani kebutuhan pelanggan atau siswa  dengan memasok barang dan jasa yang memiliki kualitas setinggi mungkin.

Ada beberapa  karakteristik yang tercakup dalam unsur-unsur mutu, yang meliputi:

  1. Fokus pada pelanggan eksternal dan internal
  2. Memiliki obsesi tinggi terhadap kualitas
  3. Pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah
  4. Adanya komitmen jangka panjang
  5. Kerja sama tim
  6. Adanya keterlibatan dan pemberdayaan pengelola pendidikan karyawan
  7. Perbaikan proses secara berkesinambungan
  8. Adanya pendidikan dan pelatihan pengelola pendi karyawan yang bersifat bottom-up
  9. Adanya kebebasan yang terkendali

[1] Nursya’ Bani Purnama. Manajemen Kualitas Prespektif Global, (Yogyakarta: Ekonisia, 2006), hlm. 51

Ruang Lingkup Materi Pendidikan Agama Islam (PAI)

October 21st, 2014 No comments

Ruang lingkup materi PAI di dalam kurikulum 1994 sebagaimana dikutip oleh Muhaimin pada dasarnya mencakup tujuh unsur pokok, yaitu: Al-Qur’an-Hadist, keimanan, syari’ah, ibadah, muamalah, akhlak, dan tarikh. Pada kurikulum tahun 1999 dipadatkan menjadi lima unsur pokok, yaitu: Al-Qur’an, keimanan, akhlak, fikih dan bimbingan ibadah serta tarikh yang lebih menekankan pada perkembangan ajaran agama, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam itu secara keseluruhannya dalam  lingkup: Al-Qur’an  dan al-hadis, keimanan, akhlak, fiqih / ibadah, dan sejarah, sekaligus menggambarkan bahwa ruang lingkup pendidikan agama Islam mencakup perwujudan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT, diri sendiri, sesama manusia, makhluk lainnya maupun lingkungannya.[1]

ruang lingkung materi pai

Unsur-unsur pokok materi kurikulum PAI yang tersebut di atas masih terkesan bersifat umum dan luas. Perlu ditata kembali menurut kemampuan siswa dan jenjang pendidikannya. Dalam arti, kemampuan-kemampuan apa yang diharapkan dari lulusan jenjang pendidikan tertentu sebagai hasil dari pembelajaran PAI.

Dalam GBPP mata pelajaran PAI kurikulum 1994 sebagaimana dikuti oleh Muhaimin, dijelaskan bahwa pada jenjang Pendidikan Menengah, kemampuan-kemampuan dasar yang diharapkan dari lulusannya adalah dengan landasan iman yang benar, siswa:

  1. Taat beribadah, mampu berdzikir dan berdo’a serta mampu menjadi imam; anak pada usia SMA dapat menjalankan rukun Islam, terutama sahadat, salat, zakat, dan puasa. Anak diharapkan juga mampu mengagungkan asma Allah, serta mampu memimpin salat.
  2. Mampu membaca Al-qur’an dan menulisnya dengan benar serta berusaha memahami kandungan maknanya terutama yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama yang relevan dengan apa yang diketahui di lingkungan sekitarnya.
  3. Memiliki kepribadian muslim, artinya di dalam diri anak selalu terpancar kesalehan pribadi dengan selalu menampakkan kebajikan yang patut dipertahankan dan diteladani untuk ukuran sebaya.
  4. Memahami, menghayati dan mengambil manfaat sejarah dan perkembangan agama Islam, dalam hal ini disesuaikan dengan kemampuannya.
  5. Mampu menerapkan prinsip-prinsip muamalah dan syari’at Islam dengan baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, dalam arti mampu menerapkan hubungan sesama makhluk dengan memperhatikan hukum Islam dan pengetahuan tentang agama Islam yang memiliki anak usia SMA.[2]

Agar kemampuan-kemampuan lulusan atau out put yang diharapkan itu bisa tercapai, maka tugas Guru pendidikan agama Islam adalah berusaha secara sadar untuk membimbing, mengajar, dan melatih siswa sebagai siswa agar dapat: (1) meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga; (2) menyalurkan bakat dan minatnya dalam mendalami bidang agama serta mengembangkannya secara optimal, sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan dapat pula bermanfaat bagi orang lain; (3) memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahannya dalam keyakinan, pemahaman dan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari; (4) menangkal dan mencegah pengaruh negatif dari kepercayaan, paham atau budaya lain yang membahayakan dan menghambat perkembangan keyakinan siswa; (5) menyesuaikan diri dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial yang sesuai dengan ajaran Islam; (6) menjadikan ajaran Islam sebagai pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat; dan (7) mampu memahami, mengilmui pengetahuan agama Islam secara menyeluruh sesuai dengan daya serap siswa dan keterbatasan waktu yang tersedia.[3]

[1]Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004 (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2004), hal. 131.

[2]Muhaimin, dkk. Paradigma Pendidikan  Islam, Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam  Di Sekolah…….,hal. 81.

[3]Ibid., hal. 83.

Teori dan Pendapat Pemimpin dilahirkan atau dibentuk?

Pemimpin dilahirkan atau dibentuk? Apakah memang ada DNA kepemimpinan sehingga ia dilahirkan, ataukah melewati tempaaan agar bisa memimpin? Dua asumsi yang sama-sama ringan sebenarnya, namun penjelasanya bisa agak pelik juga.

Leadership is the art of influence and act the people. Kepemimpinan adalah seni mempengaruhi dan menggerakkan oranglain. Mempengaruhi oranglain berarti ia memiliki kecerdasan dalam menstimulus oranglain, memiliki gagasan-gagasan baru dan ideal untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Menggerakkan berarti dengan cara mempengaruhi oranglain, maka pengikutnya akan ikut bergerak, menjadi panutan, memberikan komando, dan membimbing oranglain dalam menjalankan roda pergerakan.

teori pemimpin dilahirkan atau dibentuk

Lalu, dilahirkan atau dibentuk? Banyak prespektif. Teori genetik mengatakan pemimpin dilahirkan, karena memang ada pembawaan yang rbeda dengan kebanyakan orang, ibaratnya buah yang jatuh tak akan jauh dari pohonya. Teori kejiwaan sebaliknya, berpendapat setiap manusia memiliki bakat memimpin, maka pembentukanlah (pendidikan, pelatihan dan pendadaran) yang menjadikan seseorang cakap dalam memimpin. Teori ekologik, mencoba mempersatukan keduanya, pemimpin adalah pertemuan antara bakat lahir dan pembentukan. Teori kontigensi, mensyaratkan bakat kepemimpinan, pengalaman pendidikan ditambah dengan kegiatan pribadi yang membentukya menjadi pemimpin.

Pendapat diatas tentunya  didasarkan pada asumsi atau hipotesis belaka, namun juga memiliki bukti dan rekam jejak sejarah masing-masing teori. Keempatnya bisa digunakan untuk menjelaskan apakah pemimpin dilahirkan ataupun dibentuk.

Tentunya, masing-masing dari kita juga memiliki konsep masing-masing dan jawaban tersendiri atas pertanyaan ini, begitupula penulis. Bila kepemimpinan adalah seni mempengaruhi dan menggerakkan oranglain, maka tiap orang bisa dididik atau dibentuk untuk itu, tanpa melihat ada tidaknya bakat. Penulis sendiri mengikuti teori bahwa keberhasilan adalah buah dari 99% kerja keras, dan 1% merupakan bakat atau pembawaan.

Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Fitrah menurut hemat penulis, adalah pembawaan dan modalitas dasar, setiap orang memilikinya, namun mungkin preferensi tiap orang berbeda-beda, itu juga merupakan fitrah. Bisa jadi potensi kepemimpinan anda lebih tinggi daripada apa yang penulis miliki, bisa juga sebaliknya.

Faktor selanjutnya adalah pembentukan, dalam hal ini modalitas mana yang akan dibentuk dan ditingkatkan. Bila modalitas kepemimpinan yang ingin ditingkatkan, maka dia bisa memimpin walau yang modalitasnya rendah sekalipun. Modalitas yang tinggi pastinya akan disebut sebagai peembawaan atau bakat. Namun, seseorang akan mengikuti apa yang ia kehendaki. Walau telah dididik dan ditempa, tanpa kesadaran akan diri sendiri maka hasil tempaan tidak akan maksimal. Hasil maksimal akan bisa diperoleh dari keinginan kuat dalam diri, ditambah dengan tempaan dan modalitas pembawaannya. Your habits it’s you. Wallahu a’lam bishowab…

Believe Percaya Setelah kesulitan ada kemudahan

Believe Believe Percaya Setelah kesulitan ada kemudahan. Ketika keadaan tak bisa dikendalikan, impian tak tersampaikan, itulah ujian kehidupan dan sikapilah dengan ‘believe’. Believe atau percaya kepada Allah Swt bahwa sesuatu yang baik sedang menunggu kita disana, dimasa depan, yang kita mungkin tidak bisa menebak-nebaknya sekarang.

Believe bukan hanya sebuah kepercayaan, namun juga merupakan kekuatan untuk terus maju. Bukan hanya agar bisa move on(bergerak lagi), tapi menjadikan kita bisa moving forward (maju kedepan). Believe juga merupakan sebuah obat mujarab, dimana setiap khasiatnya akan menguatkan sendi-sendi perasaan, pikiran dan juga penfokusan kekuatan. Believe menggerakkan kita untuk melakukan hal-hal yang lebih positif, dari sekedar pelampiasan kegusaran negatif. Believe Percaya Setelah kesulitan ada kemudahan.

Believe bukan sebuah materi yang kasat mata, ia merupakan sesuatu aset yang tak tampak atau untangible asset. Pada umumnya segala sesuatu memiliki hal yang tak tampak, sebagaimana karakter, sifat, pembawaan, kebiasaan dan lain sebagainya. Namun sebenarnya hal yang tak tampak itulah yang menjadikan sesuatu itu berbeda dengan yang lainya. Maka penting bagi kita untuk mengembangkan aset tak kasat mata, sebagai modal untuk mengembangkan apa yang kasat mata.

Segala sesuatu memiliki rintanganya masing-masing. Begitupula ketika seseorang menetapkan diri untuk believe pada Allah Swt atas segala permasalahan yang ada. Kadang otak rasional kita terlalu dipaksakan sehingga tak jarang meninggalkan Tuhan. Segala permasalahan seakan bisa diselesaikan hanya dengan pemikiran, dengan modal yang kelihatan dan cara mekanistis hasil kerja otak. Memang bisa, namun kontrol akhir, hasil akhir tak bisa dipastikan oleh otak, itulah takdir.

percaya setelah kesulitan ada kemudahan

Believe Percaya Setelah kesulitan ada kemudahan. Sudah selayaknya bila kita menginginkan sesuatu, cobalah untuk berkomunikasi dengan Allah Swt. Bukan hanya karena Dia lebih dekat daripada urat nadi, Dia pula Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia Maha Pemberi Rezeki, Pemberi Kekuatan, Laa haula walaa quwwata illa billah, tak ada daya upaya melainkan atas izin Allah Swt. Namun biasanya kita hanya tahu bahwa Allah Swt adalah Tuhan kita, belum naik pada tataran keimanan atau believe.

Bila memang kita beriman pada-Nya, sudah selayaknya segaala urusan kita minta kepada-Nya. Bukankah Dia selalu mengatakan untuk meminta apapun kepada-Nya, maka dianjurkanlah kita untuk berdo’a. Bukan malah sok pintar dengan mencari solusi sendiri. Memang bisa solusi sendiri dicari dan digunakan untuk menyelesaikan masalah, tapi percayalah itu hanya bersifat temporer/ sementara.

Ketenangan jiwa, kedamaian batin bisa diraih dengan beriman kepada-Nya. Tentunya bukan hanya tahu, melainkan juga melimpahkan segala sesuatu pada-Nya, sehingga apa yang kita lakukan dituntun oleh-Nya. Percaya bahwa dibalik segala ujian, setelah semua kegusaran dan kesulitan dalam kehidupan, ada suatu kebaikan yang akan datang, itulah believe. Wallahu a’lam bishowab…

Categories: Catatanku, Hikmah Tags: , ,

Informasi Sensitif pra pemilihan capres 2014

Semakin dekat pilpres, semakin sensitif juga alur banyak informasi. Informasi Sensitif pra pemilihan capres 2014. Setiap pendapat, argumen dan tanggapan yang seakan berbau apapun itu seakan selalu dihubungkan dengan salah satu kandidat presiden. Padahal, sebelum pilpres, semua informasi masih berada pada konteks dan bidang masing-masing.

Pemilihan presiden bisa jadi merupakan sebuah paradigma/ cara berfikir kolektif masyarakat Indonesia. Namun, memang masih terbatas pada tempo antara sebelum dan mungkin sedikit setelah masa pemilihan presiden. Alasan yang menguatkan tak lain adalah terlihatnya setiap arus informasi yang seakan membawa muatan politis didalamnya.

informasi sensitif pemilihan capres 2014

Cobalah lihat timeline facebook anda, atau informasi di berita-berita baik media cetak maupun audio visual, kepentingan untuk mempengaruhi opini massa sangat jelas terlihat. Bahkan mungkin sebuah informasi baik itu status, artikel maupun tulisan di media yang kiranya tidak membawa aura politik, masih tetap bisa ditarik ke ranah politik, utamanya yang mennyangkut sifat, watak hingga sejarah masa lalu para kandidat presiden.

Dikendalikan? Tentu tidak bisa karena memang inilah adanya. Lalu, apakah kita akan ikut menjadi aktor dengan membuat informasi-informasi bernuansa politis, ataukah menjadi agen penyebar informasi itu, atau kita lebih suka menjadi seorang yang anonymous (seorang tanpa identitas yang jelas) dan kemudian dengan bebasnya mengeluarkan opini kita, menjelekkan satu dengan lainya, mengadu-domba yang bahkan mereka sendiri adalah manusia. Informasi Sensitif pra pemilihan capres 2014.

Bagiku, sikap diam dan tenang masih menjadi nomor satu. Diam bukan berarti tidak peduli, diam bukan berarti membiarkan diri terombang ambing informasi. Namun, diam mengambil waktu untuk berfikir lebih dalam, menyeleksi berbagai informasi, mengolah dan melihat gambaran besar dari skenario agenda lima tahunan publik ini.

Diam juga berarti tidak ikut mengeruhkan suasana yang telah keruh, dan pada ujungnya diam juga merupakan sikap politik dimana tak mendukung kanan atau kiri. Diam bukan berarti tidak paham, namun lebih memilih untuk berfikir lagi, apakah benar pilihanku adalah itu, apakah sudah pas dan tidak ada keraguan lagi dalam penetapan pilihan. Walau sebelum hari H kita bersikap tenang, 9 Juli 2014 harus tetap memberikan suara, sebagai bukti kepedulian pada bangsa.

Dalam agama, praduga merupakan jalan menuju kelalaian yang membuka pintu-pintu jurang. Maka, ketika kita membaca informasi, hilangkanlah sejenak praduga yang kita miliki, cobalah untuk bersifat terbuka, menerima sebuah informasi walau terkadang itu bertentangan dengan akal sehat ataupun pendapat pribadi. Tetap menggali dan terus diperbaiki, hingga terkumpul puzzle yang dapat kita lihatkemana arah dari informasi-informasi yang selama ini membanjiri. Ketika itulah, keputusan dapat diambil, kesimpulan dapat ditarik, dan benang merah akan terurai.

Blia masih mengikuti praduga, maka sebuah informasi akan cenderung mengikuti praduga. Seburuk inforrmasi apapun, bila kita menyukai aktor didalamnya akan menjadi baik. Begitupula sebaliknya, sebaik apapun informasi yang ada, namun praduga buruk telah mengurung kita, maka hasil akhirnya pastilah buruk jua.

Ada orang yang memang sengaja terperangkap atau memasukkan dirinya pada perangkap oranglain, dimana oranglain itu memegang kunci tahanan pikiran mereka. Sehingga opini yang dihasilkan pastilah sebuah alur yang seragam. Tetapi, sebenarnya kunci cadangan ada pada diri mereka sendiri. Jadi, kalau mau keluar dari perangkap itu, sebenarnya mereka mampu, namun tidak banyak yang melakukanya.

Jadilah orang dengan pikiran terbuka, yaitu orang yang selalu menjadikan pengalaman baru sebagai masukan untuk terus memperbaharui pikiran-pikiranya. Wallahu a’lam bishowab…

Sikap Tetap Tenang Sebelum pemilihan Presiden 2014

Sikap Tetap Tenang Sebelum pemilihan Presiden 2014. Isu demi isu capres digemborkan, kebaikan dan keborokan diumbar, haruskah aku turut serta. No! I’m not. Bukanya tidak peduli, namun belum menjadi kapasitasku untuk membeberkan opiniku. Aku memilih untuk menenangkan diri, mengambil waktu untuk membaca, mengumpulkan kepingan puzzle informasi, untuk disusun kembali, namun masih dicukupkan untuk diri sendiri.

Semua orang berpolitik, itu benar. Semua aktivitas manusia memiliki tujuan individu, kepentingan pribadi untuk dimiliki sendiri. Salahkah? Tidak, itulah kenyataan. Mengelak? Hanya menunjukkan tambahan alasan kepentingan. Mengambil sikap, nah itulah yang aku inginkan. Dan aku mengambil sikap tetap tenang, diantara derasnya arus informasi, plus minus, kenyataan dan gosip, isu hingga apa yang ada. Sikap Tetap Tenang Sebelum pemilihan Presiden 2014.

Terhadap informasi, haruslah skeptis, tidak mudah percaya. Dengan kata lain, selalu di cek, ditelusuri, hingga menemukan gambaran besarnya. Pribadiku mengatakan, jangan menjustifikasi/ menghakimi seseorang, atau melabelinya dengan sebuah sebutan, tanpa pemikiran, tanpa mengoleksi kepingan informasi, dan menyatukanya menjadi sebuah formasi, gambaran besar. Bahkan hingga sumber informasi terpercayapun, terdapat kepentingan, tersembunyi, pelik dan susah dimengerti.

Aku membenarkan sebuah pepatah, “Dalam Ketenangan ada keselamatan, dalam kecerobohan ada penyesalan.” Keep calm and trust your heart. Tetap tenang dan percayakan pada nuranimu, karna ia tak pernah menipu, walau otakmu, pikiran logismu mungkin tak bisa menyatu padu. Nurani atau hati kecil merupakan anugrah yang teramat berharga, bukan hanya organ pelengkap belaka, namun penunjuk jalan menuju kebenaran.

Bagaimana bisa tetap tenang, diantara gencaran informasi yang memojokkan, ada juga yang mengagungkan. Jawaban mudahnya, sabarlah. Tentu kau ingat teman “kesabaran adalah kunci keberhasilan.”

Lalu, bagaimana tentang mereka yang memojokkan dan mengagungkan salah satu pasangan (capres)? Let it be, biarkanlah. Setiap orang punya sikapnya masing-masing, inilah warna warni kehidupan, jangan ditolak apalagi ditentang.

sikap tetap tenang sebe  pemilihan presiden 2014

Sulit? Pastinya. Inilah yang dinamakan pembentukan karakter, mulai dari sikap, pembiasaan, kesabaran dan keistiqomahan. Ingat pelajaran sebelumnya, pertama kita bentuk sebuah kebiasaan (baik), kemudian kebiasaan itu akan membentuk kita. Saranku untuk teman-teman semua, keep calm and decide your choice on 9 of July. Jangan lupa, percayakanlah pada nuranimu J

Wallahu a’lam bishowab.

Categories: Catatanku Tags: , ,

Mendidik Heart, Head and Hand

Mendidik Heart, Head and Hand. Tak kan ada kesuksesan melainkan tulus diniatkan dari hati yang terdalam. Begitulah petikan singkat dari wawancara bersama ibu kepala sekolah yang kudatangi pagi tadi. Beliau dengan niat dan tekadnya mampu membawa sekolah dasar yang dulunya biasa saja menajdi tempat belajar yang diperhitungkan di bilangan kota Malang.

Tugas kuliah untuk materi supervisi pendidikan harus berbasiskan riset/ penelitian, begitulah dosen kami Prof. Dr. H. Djunaidi Ghony ketika menyampaikan pengantar perkuliahan di awal pertemuanya. Karena itu, setiap dari kami harus menuliskan kajian pustaka, juga melampirkan hasil penelitian di lapangan. Penelitian ini memang tidak terlalu mendalam, namun cukup untuk lebih memahamkan kami pada tataran kenyataan yang ada di lapangan. Mendidik Heart, Head and Hand.

Pagi tadi (30/5/2014) saya bersama teman pergi ke Sekolah Dasar Negri SDN 01 Mulyoagung, Dau, Malang. Disana kami bertemu ibu kepala sekolah, Ibu Siti begitulah guru dan siswa memanggilnya. Kami berbincang tentang supervisi kepala sekolah, khususnya dalam bisang pembelajaran.

Mendidik Heart, Head and Hand. Apa yang kami dapatkan adalah sebuah cerita panjang nan kompleks, namun satu hal yang membuat kami terkagum, niat tulus dan kegigihan beliau dalam mengembangkan lembaga pendidikanya. Kadang saya berfikir, bagaimana bisa ibu ini menggerakkan semua elemen yang ada di sekolah hingga masyarakat sekitar untuk memajukan pendidikanya, cerita demi cerita pun berlanjut dan kami asyik mendengarnya.

Bila diungkapkan semua ceritanya, mungkin perlu berleembar-lembar, namun akan disingkat saja. Ibu kepala sekolah selalu menitik beratkan pada hasil akhir dari proses pendidikan. Ketika hasil akhir yang diharapkan baik, maka prosesnya juga harus baik, bahkan hingga guru-gurunya pun harus baik. Hal ini senada dengan pernyataan K.H. Imam Zarkasyi, “Metode Mengajar lebih penting daripada materi, Guru lebih penting daripada metode, dan ruh guru lebih penting daripada guru itu sendiri”.

Apa yang terjadi di lapangan, ternnyata berbeda jauh dengan apa yang ada dalam lembaran buku. Bila di buku diterangkan baagaimana teknikk-teknik supervisi yang beraneka ragamnya, dalam lapangan kami mendapatkan terkadang hanya satu pendekatan/ metode dalam menjalankan supervisi pembelajaran.

Dari semua yang dikemukakan ibu kepsek, inti utama adalah ketanggapan kepala sekolah akan isu yang ada. Ketika ada sebuah isu yang diperkirakan akan memberikan dampak negatif, ibu ini langsung mengumpulkan guru-gurunya untuk dirembukkan bagaimana baiknya. Inti pertanyaanya, mau dibawa kemana anak-anak ini, menurut ibu/bapak guru yang bersangkutan bagaimana pelaksanaanya. Dengan adanya musyawarah dan keterbukaan guru-guru dalam forum, maka masalah akan lebih cepat terselesaikan dan prespektif tiap guru dapat kembali kepada jalur utama, jalur untuk mensukseskan siswa.

Selain itu, setiap interaksi adalah proses pendekatan dan pemahaman seerta pemberian bimbingan bagi guru-guru. Disaat guru-guru meminta tanda tangan untuk RPPnya, disitu bisa dimasukkan koreksian dan saran-saran untuk lebih memajukan siswa. Ketika bertemu di ruangan guru, ataupun dalam kantin, merupakan wahana sharing yang lebih efektif. Selain guru tidak merasa terbelenggu, mereka juga merasa bebas mengungkapkan keluhan dan hambatan yang dialaminya. Keterbukaan dan kejujuran menjadi kunci utama dalam interaksi ini.

Hasil evaluasi seperti nilai ulangan, try out UN dan hasil ujian menjadi cermin dari usaha tiap guru. Apa yang kurang perlu diperbaiki, yang baik perlu diberikan reward. Kekurangan yang ada cukup ditunjukkan kepada guru, kemudian dengan bijak memintanya untuk memperbaiki kualitas pembelajaran, tidak perlu punishment karna guru pastilah sudah mengerti apa yang dimaksud kepsek. Begitupula reward atau hadiah, tidak perlu berupa fisik dan bersifat materi, sebuah pujian dan dukungan sudah cukup menjadikan seseorang dihargai atas usaha kerasnya dalam mendidik siswa. “Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan” begitulah salah satu prinsip quantum teaching yang secara tidak langusng dilaksanakan di sekolah tersebut.

Kesimpulanku, mendidik haruslah diawali dari heart/ hati dimana niat tulus, ikhlas tanpa pamrih muncul untuk memajukan dan mengembangkan peserta didik. Heart akan menstimulus head/kepala atau otak untuk berfikir mencari jalan bagaimana realisasi/ pelaksanaan yang cocok untuk konteks sekolah tersebut. Maka head jika telah memiliki konsep, akan menggerakkan hand untuk bekerja dan melaksanakan apa yang telah dikonsepkan tadi. Dari hari menstrimulus kepala/ otak, kemudian menggerakkan tangan/ anggota tubuh. From heart, consepttualize in head, then deriver hand. Wallahu a’lam bishowab.

 

 

Categories: Catatanku Tags:

Gontor tidak berpolitik praktis

Sempat terkejut dengan pemberitaan Gontor yg mendukung salah satu capres. Gontor tidak berpolitik praktis. Ternyata, itu pernyataan dari satu orang alumni yang kemudian digeneralisasi secara paksa oleh pihak pemilik media penulis. Sehingga, terlihat seakan Gontor memihak salah satu capres, padahal logika yang digunakanya salah, premis minor dan mayornya memang benar, namun generalisasi yang digunakan salah, sehingga bisa dipastikan hasilnyapun salah. Opini seorang alumni tidak bisa mewakili dua orang atau lebih, apalagi yang dituliskan adalah nama lembaganya, jelas cara itu ngawur dan tidak masuk akal. Ilustrasinya sebagaimana dibawah ini:

Premis minor: ali adalah santri gontor = benar

Premis mayor: ali mendukung si A = benar

Kesimpulan: Gontor mendukung si A = salah

Bagaimana bisa ali disamakan dengan Gontor? Ali adalah seseorang, memiliki pandangan sendiri, opini sendiri dan kepribadian serta prilaku yang kesemuanya kembali pada diriinya sendiri. Bagaimana bisa dia disamakan dengan Gontor, sebuah lembaga besar, dimana banyak individu didalamnya, memiliki sistem, aturan dan tata cara sendiri yang telah diatur. Bahkan pimpinan pondok, atau ketua yayasan (badan wakaf) sekalipun, prilakunya tidak bisa langsung diafiliasikan dengan Gontor. Ada nilai-nilai luhur yang telah ditetapkan oleh  pendirinya, yang itu menjadikan sunnah pondok, prilaku pondok, dan lain sebagainya sehingga terbentuklah budaya Gontor.

Panca Jiwa dan Motto Pondok Gontor

Dari awal, Gontor telah menetapkan prinsip-prinsip serta motto bagi kelangsungan lembaga ini. Salah satu prinsipnya adalah “Berdiri diatas dan untuk semua golongan”. Orang waras manapun akan mengartikan bahwa Gontor tidak berafiliasi dengan salah satu golongan organisasi masyarakat, apalagi partai politik. Intinya, Gontor tidak berpolitik praktis. Gontor menerima semua golongan yang ingin belajar, tentunya dengan persyaratan dan ketentuan yang telah ditetapkan. Prinsip ini lebih menegaskan lagi bahwa Gontor dan alumninya diharapkan menjadi perekat ummat. Tidak berpolitik praktis, itu prinsip Gontor, alumninya dibebaskan untuk memilih mana yang baik menurut mereka.

Dalam falsafah Gontor, kebebasan tidak diajarkan kecuali setelah melaksanakan urutan motto pondok sebelumnya. Motto pondok Gontor adalah kriteria atau sifat-sifat utama yang ingin ditanamkan pada setiap santrinya, urutanya: (1) Berbudi Tinggi, (2) Berbadan Sehat, (3) Berpengetahuan Luas, (4) Berfikiran Bebas. Berfikir bebas tidak akan bisa dilakukan tanpa memiliki pengetahuan yang luas, maka luaskanlah pengetahuanmu dengan membaca dan melihat alam semesta hingga kau dapatkan hikmah darinya. Selengkapnya bisa dibaca di web reesmi Gontor http://www.gontor.ac.id/motto

Gontor juga memiliki panca jiwa; (1) Keikhlasan, (2) Kesederhanaan, (3) Berdikari, (4) Ukhuah Islamiyah, dan (5) Kebebasan. Panca jiwa adalah nilai-nilai yang dijiwai oleh suasana-suasana kehidupan di pondok Gontor. Nilai ini mendasari setiap kegiatan yang ada di Gontor. Penjelasan seutuhnya bisa dibuka di website gontor http://www.gontor.ac.id/panca-jiwa

Kembali kepada tema utama, Gontor memang berpolitik, namun Gontor tidak berpolitik praktis. Sekali lagi, Gontor tidak mendukung partai apapun, atau golongan masyarakat tertentu. Dalam pandangan Gontor, politik tertinggi adalah dengan pendidikan. Tentunya, pendidikan yang dimaksud bukan hanya sekedar transfer ilmu pengetahuan, namun juga transfer nilai-nilai sehingga terciptalah seorang insan kaamil. Dengan pendidikan, Gontor berusaha menghasilkan alumni yang bisa menjadi kader perekat ummat, demi memajukan bangsa Indonesia.

KH. Ahmad Sahal, salah satu pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, menegaskan, “Meskipun semua santri dan guru di Pondok ini adalah anak orang Muhammadiyah, Pondok ini tidak akan berubah menjadi Muhammadiyah. Dan meskipun semua santri dan guru di Pondok ini adalah anak orang Nahdhatul Ulama, Pondok ini tidak akan pernah berubah menjadi Nahdhatul Ulama.”

Begitulah kiranya tambahan klarifikasi atas berita tersebut. Akun twitter resmi Gontor (@PMGontor) juga telah mengklarifikasi berita tersebut, dengan memberikan sembilan tweeps.

Aslkm ikhwan tweeps.. menyikapi bbrp pemberitaan di luar ttg sikap gontor terkait hiruk pikuk pemilu, ada bbrp hal yg perlu kami sampaikan

1. Sejak didirikan pd th 1926, gontor secara lembaga tdk terjun ke dlm politik praktis

2. Gontor merupakan ponpes yg sdh diwakafkan pd umat Islam seluruh dunia, sehingga gontor berdiri di ataa dan untuk semua golongan

3. Gontor benar2 lembaga yg mandiri, tdk berafiliasi ke ormas atau parpol tertentu

4. Dengan samangat membangun negeri, Gontor mendorong aspirasi umat untuk menentukan pilihannya sendiri dlm Pilpres 2014

5. Gontor tidak mendukung capres tertentu. Gontor mendukung masyarakat untuk menentukan sendiri pemimpin pilihan umat

6. Jika ada pihak yg menyatakan bhw Gontor mendukung salah satu Capres, itu tdk benar. Sekali lg, gontor tdk berpolitik praktis

7. Untuk para alumni, diberi kebebasan dlm menentukan pilihannya, tp mohon dg sangat untuk tdk mbawa gontor secara lembaga.

8. Gontor ttp pd komitmen awal untuk menjadi perekat umat, mencetak kader pemimpin umat.

9. Demikian ikhwan tweeps pernyataan kami, mohon untuk disebarluaskan. Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Bijak dan selektif dalam menerima informasi, merupakan satu dari akhlak seorang muslim sejati.

Categories: Pondok Gontor Tags:

Peringatan Isra Mi’raj 1435/2014 di dusun Areng-Areng

Kepanitiaan, musyawarah, lomba dan pengajian merupakan rangkaian acara peringatan Isra mi’raj pada 27 Rajab 1435 H di dusun areng-areng. Dusun dimana kebanyakan dari kami mahasiswa pasca UIN Maliki Malang, bertempat tinggal baik kos maupun kontrak rumah. Peringatan Isra Mi’raj 1435/2014 di dusun Areng-Areng.

Kegiatan ini diawali dengan dikumpulkanya kami oleh para tokoh dusun areng-areng, pak. Nur Widodo sebagai koordinator utama, pak Bakin sebagai tokoh agama dan pak Kasan sebagai ketua rukun tetangga. Perkumpulan pertama di mushola menghasilkan bahwa dusun ini perlu penggerak dalam bidang keagamaan dan itulah kami, kemudian dipadukan juga dengan remaja musholla dimana mereka lebih mengetahui tempat tinggal sendiri.

Peringatan Isra Mi’raj 1435 h/ 2014 UIN Maliki Malang di dusun Areng-Areng

Setelah berpadu antara kami yang disebut sebagai kaum muhajjirin, dan kaum ansor sebutan bagi remaja musholla, maka dirumuskanlah acara apa saja yang akan diadakan. Walhasil, tersusun acara lomba adzan, pidato, merangkai huruf hijaiyah, balap kelereng sendok, memasukkan paku dalam botol, dan makan kerupuk. Peringatan Isra Mi’raj 1435/2014 di dusun Areng-Areng.

Bukan perkara mudah bagi kami untuk beradaptasi dan mempersiapkan segala kebutuhan lomba dalam dua hari kedepan, namun ternyata persiapan bisa memadai dan terlaksana dengan baik. Terimakasih kami ucapkan kepada donatur, dan panitia yang telah memberikan sumbangan tenaga dan fikiran demi terlaksananya acara ini.

Acara ini dimulai malam hari setelah isya untuk lomba hafalan surat-surat pendek, kemudian pagi hari diteruskan dengan lomba adzan dan merangkai huruf hijaiyah. Sorenya, lomba balap kelereng sendok, makan kerupuk dan memasukkan paku dalam botol. Malamnya, kami mengadakan pengajian bersama masyarakat sekitar dusun. Kecil memang areanya, namun cukup memberikan pelajaran berharga bagi kami.

Bila dilihat, acara ini bukan hanya sebuah rentetan kegiatan. Namun lebih dari itu, didalamnya kami bisa lebih mengenal, mengetahui karakter satu dengan yang lainya, mengerjakan apa yang terbaik bagi terselenggaranya acara, berkonsultasi dengan tokoh masyarakat, hingga berkolaborasi dengan remaja musholla al-amin. Kesemuanya sanagt berharga, karena tidak akan didapatkan lewat bangku kuliah. Kebersamaan, tolong menolong, komitmen, pengorbanan, misi dakwah merupakan rangkaian kata indah untuk menggambarkanya.

panitia isra mikraj 1435h/ 2014 uin malang dadaprejo

Pelajaran menarik dari hal ini, adalah dimanapun kita tinggal, sebaik mungkin kita memberikan kontribusi bagi penduduknya. Istilah lainya, dimanapun kakimu berpijak, disitu kamu bertanggung jawab atas keislamanya. Kelebihan individual tak akan berguna bila tidak ada kebersamaan. Itulah manusia, bila tangan dengan lengan, maka seseorangg haruslah dengan teman, yang mendukung, membantu dan menyemangati kita. Memberikan kebaikan kepada oranglain, tidak akan pernah merugi, sebaliknya ia akan membuka pintu-pintu rejeki dan keberkahan dari arah yang tidak kita sangka-sangka. Wallahu a’lam.

 

Categories: Catatanku Tags: , ,

Buatlah kenangan sebelum perpisahan

Buatlah kenangan sebelum perpisahan. Waktu berlalu, manusia datang dan pergi, silih berganti mengisi kehidupan ini. Terasa senang pertama berjumpa, sedih sebelum berpisah. Inilah skenario kehidupan, manusia hanya akan hidup dalam kenangan seorang setelahnya, maka tinggalkanlah kenangan baik bagi generasi selanjutnya.

kenangan bersama temanWalau masih satu tahun lagi dalam masa studiku, namun perpisahan bersama teman-teman seakan sudah didepan mata. Terbayang tak ada lagi canda tawa, ledekan-ledekan tar terencana, hingga bersama menghimpun kekuatan tuk sebuah kebersamaan. Mungkin terlihat sedikit mendramatisir, tapi itulah yang ada. Kesedihan pasti ada, karena kita manusia. Buatlah kenangan sebelum perpisahan.

Lalu aku mulai berfikir, apa sebenarnya yang dicari dalam sebuah relasi? toh ketika berpisah semuanya juga sudah usai. Apa yang lebih berharga dari sebuah hubungan manusia? Agar kita tetap terjaga antara satu dan lainya, mungkin sebuah memori. Jikalah itu ada benarnya, maka ukirlah namamu dengan kebaikanmu, ukir ingatanmu dengan sebuah keharmonisan, kebersamaan, kekompakan, dan kesatuan.

Berjalanya waktu terus membenarkan pesan kyaiku. Hidup sekali hiduplah yang berarti. Pertemuan hanyalah sekali, maka buatlah pertemuan itu berarti. Saling menolong, itu hanya bagian kecil, mudah dilakukan, namun berdampak besar, menguatkan satu dengan yang lainya. Berjalan bersama, beraktifitas bersama teman-teman, menggantungkan mimpi setinggi awan akan meringankan beban. Buatlah kenangan sebelum perpisahan.

Berbuatlah untuk orang banyak, hingga seakan engkau adalah seribu orang. Jangan hanya berpangku tangan sebagaimana seribu orang namun seakan tak kelihatan. Lepaskan belenggu kepentingan individu, untuk kepentingan bersama. Ajaklah kawan untuk merapatkan barisan. Jangan biarkan amarah mengendalikanmu, tapi kontrollah mereka agar kau bisa maju.

Jadikanlah kesabaran sebagai jalan istiqomah. Gagal sekali, coba lagi! Karena apa yang ada sekarang, tak mungkin terulang. Bila memang terulang, mungkin pertanda kemunduran, namun waktu kan terus berjalan. Tebarkan kebaikan, singkirkan kejahatan, termasuk apa yang ada dalam hati.

Sesungguhnya tangan bergerak dan menggerakkan bersama lengan, maka manusia mutlak membutuhkan teman. Kecocokan perlu dipupuk, ketidak cocokan perlu diperbaiki. Memang terkadang teman mendekatkan kemungkaran, namun ia juga mendekatkan pada kebaikan. Apa yang perlu diperhatikan, adalah menjaga arah tujuan hingga tak terkapar dalam sesat malam.

Janganlah takjub pada kehancuran disebabkan perbuatan manusia, namun lihatlah bagaimana seseorang bisa menghasilkan sebuah karya. Amati, pelajari, dan buatlah karyamu sendiri. Sesungguhnya manusia adalah apa yang dikenang orang setelahnya, maka buatlah kenangan yang baik bagi mereka setelah anda.

وَالنَّاسُ أَلْفٌ مِنْهُمْ كَوَاحِـدٍ

#

وَوَاحِـدٌ كَاْلأَلْفِ إِنْ أَمْرٌ عَنىَ

وَآفَةُ العَقْلِ الهَوَى فَمَنْ عَـلاَ

#

عَلـىَ هَـوَاهُ عَقْلُهُ فَقَدْ نَجَـا

عَوِّلْ عَلىَ الصَّبْرِ الجَمِيْلِ فَإِنَّهُ

#

أَمْنَعُ مَـا لاَذَ بِهِ أُوْلُو الحِجَـا

لاَتَعْجَبَنَّ مِنْ هَالِكٍ كَيْفَ هَوَى

#

بَلْ فَاعْجَبَنْ مِنْ سَالِمٍ كَيْفَ نَجاَ

وَإِنَّمَــا المَرْءُ حَدِيْثٌ بَعْدَهُ

#

فَكُنْ حَدِيْثًا حَسَـناً لِمَنْ وَعىَ

Categories: Catatanku Tags: ,