Teori dan Pendapat Pemimpin dilahirkan atau dibentuk?

Pemimpin dilahirkan atau dibentuk? Apakah memang ada DNA kepemimpinan sehingga ia dilahirkan, ataukah melewati tempaaan agar bisa memimpin? Dua asumsi yang sama-sama ringan sebenarnya, namun penjelasanya bisa agak pelik juga.

Leadership is the art of influence and act the people. Kepemimpinan adalah seni mempengaruhi dan menggerakkan oranglain. Mempengaruhi oranglain berarti ia memiliki kecerdasan dalam menstimulus oranglain, memiliki gagasan-gagasan baru dan ideal untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Menggerakkan berarti dengan cara mempengaruhi oranglain, maka pengikutnya akan ikut bergerak, menjadi panutan, memberikan komando, dan membimbing oranglain dalam menjalankan roda pergerakan.

teori pemimpin dilahirkan atau dibentuk

Lalu, dilahirkan atau dibentuk? Banyak prespektif. Teori genetik mengatakan pemimpin dilahirkan, karena memang ada pembawaan yang rbeda dengan kebanyakan orang, ibaratnya buah yang jatuh tak akan jauh dari pohonya. Teori kejiwaan sebaliknya, berpendapat setiap manusia memiliki bakat memimpin, maka pembentukanlah (pendidikan, pelatihan dan pendadaran) yang menjadikan seseorang cakap dalam memimpin. Teori ekologik, mencoba mempersatukan keduanya, pemimpin adalah pertemuan antara bakat lahir dan pembentukan. Teori kontigensi, mensyaratkan bakat kepemimpinan, pengalaman pendidikan ditambah dengan kegiatan pribadi yang membentukya menjadi pemimpin.

Pendapat diatas tentunya  didasarkan pada asumsi atau hipotesis belaka, namun juga memiliki bukti dan rekam jejak sejarah masing-masing teori. Keempatnya bisa digunakan untuk menjelaskan apakah pemimpin dilahirkan ataupun dibentuk.

Tentunya, masing-masing dari kita juga memiliki konsep masing-masing dan jawaban tersendiri atas pertanyaan ini, begitupula penulis. Bila kepemimpinan adalah seni mempengaruhi dan menggerakkan oranglain, maka tiap orang bisa dididik atau dibentuk untuk itu, tanpa melihat ada tidaknya bakat. Penulis sendiri mengikuti teori bahwa keberhasilan adalah buah dari 99% kerja keras, dan 1% merupakan bakat atau pembawaan.

Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Fitrah menurut hemat penulis, adalah pembawaan dan modalitas dasar, setiap orang memilikinya, namun mungkin preferensi tiap orang berbeda-beda, itu juga merupakan fitrah. Bisa jadi potensi kepemimpinan anda lebih tinggi daripada apa yang penulis miliki, bisa juga sebaliknya.

Faktor selanjutnya adalah pembentukan, dalam hal ini modalitas mana yang akan dibentuk dan ditingkatkan. Bila modalitas kepemimpinan yang ingin ditingkatkan, maka dia bisa memimpin walau yang modalitasnya rendah sekalipun. Modalitas yang tinggi pastinya akan disebut sebagai peembawaan atau bakat. Namun, seseorang akan mengikuti apa yang ia kehendaki. Walau telah dididik dan ditempa, tanpa kesadaran akan diri sendiri maka hasil tempaan tidak akan maksimal. Hasil maksimal akan bisa diperoleh dari keinginan kuat dalam diri, ditambah dengan tempaan dan modalitas pembawaannya. Your habits it’s you. Wallahu a’lam bishowab…

Believe Percaya Setelah kesulitan ada kemudahan

Believe Believe Percaya Setelah kesulitan ada kemudahan. Ketika keadaan tak bisa dikendalikan, impian tak tersampaikan, itulah ujian kehidupan dan sikapilah dengan ‘believe’. Believe atau percaya kepada Allah Swt bahwa sesuatu yang baik sedang menunggu kita disana, dimasa depan, yang kita mungkin tidak bisa menebak-nebaknya sekarang.

Believe bukan hanya sebuah kepercayaan, namun juga merupakan kekuatan untuk terus maju. Bukan hanya agar bisa move on(bergerak lagi), tapi menjadikan kita bisa moving forward (maju kedepan). Believe juga merupakan sebuah obat mujarab, dimana setiap khasiatnya akan menguatkan sendi-sendi perasaan, pikiran dan juga penfokusan kekuatan. Believe menggerakkan kita untuk melakukan hal-hal yang lebih positif, dari sekedar pelampiasan kegusaran negatif. Believe Percaya Setelah kesulitan ada kemudahan.

Believe bukan sebuah materi yang kasat mata, ia merupakan sesuatu aset yang tak tampak atau untangible asset. Pada umumnya segala sesuatu memiliki hal yang tak tampak, sebagaimana karakter, sifat, pembawaan, kebiasaan dan lain sebagainya. Namun sebenarnya hal yang tak tampak itulah yang menjadikan sesuatu itu berbeda dengan yang lainya. Maka penting bagi kita untuk mengembangkan aset tak kasat mata, sebagai modal untuk mengembangkan apa yang kasat mata.

Segala sesuatu memiliki rintanganya masing-masing. Begitupula ketika seseorang menetapkan diri untuk believe pada Allah Swt atas segala permasalahan yang ada. Kadang otak rasional kita terlalu dipaksakan sehingga tak jarang meninggalkan Tuhan. Segala permasalahan seakan bisa diselesaikan hanya dengan pemikiran, dengan modal yang kelihatan dan cara mekanistis hasil kerja otak. Memang bisa, namun kontrol akhir, hasil akhir tak bisa dipastikan oleh otak, itulah takdir.

percaya setelah kesulitan ada kemudahan

Believe Percaya Setelah kesulitan ada kemudahan. Sudah selayaknya bila kita menginginkan sesuatu, cobalah untuk berkomunikasi dengan Allah Swt. Bukan hanya karena Dia lebih dekat daripada urat nadi, Dia pula Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia Maha Pemberi Rezeki, Pemberi Kekuatan, Laa haula walaa quwwata illa billah, tak ada daya upaya melainkan atas izin Allah Swt. Namun biasanya kita hanya tahu bahwa Allah Swt adalah Tuhan kita, belum naik pada tataran keimanan atau believe.

Bila memang kita beriman pada-Nya, sudah selayaknya segaala urusan kita minta kepada-Nya. Bukankah Dia selalu mengatakan untuk meminta apapun kepada-Nya, maka dianjurkanlah kita untuk berdo’a. Bukan malah sok pintar dengan mencari solusi sendiri. Memang bisa solusi sendiri dicari dan digunakan untuk menyelesaikan masalah, tapi percayalah itu hanya bersifat temporer/ sementara.

Ketenangan jiwa, kedamaian batin bisa diraih dengan beriman kepada-Nya. Tentunya bukan hanya tahu, melainkan juga melimpahkan segala sesuatu pada-Nya, sehingga apa yang kita lakukan dituntun oleh-Nya. Percaya bahwa dibalik segala ujian, setelah semua kegusaran dan kesulitan dalam kehidupan, ada suatu kebaikan yang akan datang, itulah believe. Wallahu a’lam bishowab…

Categories: Catatanku, Hikmah Tags: , ,

Informasi Sensitif pra pemilihan capres 2014

Semakin dekat pilpres, semakin sensitif juga alur banyak informasi. Informasi Sensitif pra pemilihan capres 2014. Setiap pendapat, argumen dan tanggapan yang seakan berbau apapun itu seakan selalu dihubungkan dengan salah satu kandidat presiden. Padahal, sebelum pilpres, semua informasi masih berada pada konteks dan bidang masing-masing.

Pemilihan presiden bisa jadi merupakan sebuah paradigma/ cara berfikir kolektif masyarakat Indonesia. Namun, memang masih terbatas pada tempo antara sebelum dan mungkin sedikit setelah masa pemilihan presiden. Alasan yang menguatkan tak lain adalah terlihatnya setiap arus informasi yang seakan membawa muatan politis didalamnya.

informasi sensitif pemilihan capres 2014

Cobalah lihat timeline facebook anda, atau informasi di berita-berita baik media cetak maupun audio visual, kepentingan untuk mempengaruhi opini massa sangat jelas terlihat. Bahkan mungkin sebuah informasi baik itu status, artikel maupun tulisan di media yang kiranya tidak membawa aura politik, masih tetap bisa ditarik ke ranah politik, utamanya yang mennyangkut sifat, watak hingga sejarah masa lalu para kandidat presiden.

Dikendalikan? Tentu tidak bisa karena memang inilah adanya. Lalu, apakah kita akan ikut menjadi aktor dengan membuat informasi-informasi bernuansa politis, ataukah menjadi agen penyebar informasi itu, atau kita lebih suka menjadi seorang yang anonymous (seorang tanpa identitas yang jelas) dan kemudian dengan bebasnya mengeluarkan opini kita, menjelekkan satu dengan lainya, mengadu-domba yang bahkan mereka sendiri adalah manusia. Informasi Sensitif pra pemilihan capres 2014.

Bagiku, sikap diam dan tenang masih menjadi nomor satu. Diam bukan berarti tidak peduli, diam bukan berarti membiarkan diri terombang ambing informasi. Namun, diam mengambil waktu untuk berfikir lebih dalam, menyeleksi berbagai informasi, mengolah dan melihat gambaran besar dari skenario agenda lima tahunan publik ini.

Diam juga berarti tidak ikut mengeruhkan suasana yang telah keruh, dan pada ujungnya diam juga merupakan sikap politik dimana tak mendukung kanan atau kiri. Diam bukan berarti tidak paham, namun lebih memilih untuk berfikir lagi, apakah benar pilihanku adalah itu, apakah sudah pas dan tidak ada keraguan lagi dalam penetapan pilihan. Walau sebelum hari H kita bersikap tenang, 9 Juli 2014 harus tetap memberikan suara, sebagai bukti kepedulian pada bangsa.

Dalam agama, praduga merupakan jalan menuju kelalaian yang membuka pintu-pintu jurang. Maka, ketika kita membaca informasi, hilangkanlah sejenak praduga yang kita miliki, cobalah untuk bersifat terbuka, menerima sebuah informasi walau terkadang itu bertentangan dengan akal sehat ataupun pendapat pribadi. Tetap menggali dan terus diperbaiki, hingga terkumpul puzzle yang dapat kita lihatkemana arah dari informasi-informasi yang selama ini membanjiri. Ketika itulah, keputusan dapat diambil, kesimpulan dapat ditarik, dan benang merah akan terurai.

Blia masih mengikuti praduga, maka sebuah informasi akan cenderung mengikuti praduga. Seburuk inforrmasi apapun, bila kita menyukai aktor didalamnya akan menjadi baik. Begitupula sebaliknya, sebaik apapun informasi yang ada, namun praduga buruk telah mengurung kita, maka hasil akhirnya pastilah buruk jua.

Ada orang yang memang sengaja terperangkap atau memasukkan dirinya pada perangkap oranglain, dimana oranglain itu memegang kunci tahanan pikiran mereka. Sehingga opini yang dihasilkan pastilah sebuah alur yang seragam. Tetapi, sebenarnya kunci cadangan ada pada diri mereka sendiri. Jadi, kalau mau keluar dari perangkap itu, sebenarnya mereka mampu, namun tidak banyak yang melakukanya.

Jadilah orang dengan pikiran terbuka, yaitu orang yang selalu menjadikan pengalaman baru sebagai masukan untuk terus memperbaharui pikiran-pikiranya. Wallahu a’lam bishowab…

Sikap Tetap Tenang Sebelum pemilihan Presiden 2014

Sikap Tetap Tenang Sebelum pemilihan Presiden 2014. Isu demi isu capres digemborkan, kebaikan dan keborokan diumbar, haruskah aku turut serta. No! I’m not. Bukanya tidak peduli, namun belum menjadi kapasitasku untuk membeberkan opiniku. Aku memilih untuk menenangkan diri, mengambil waktu untuk membaca, mengumpulkan kepingan puzzle informasi, untuk disusun kembali, namun masih dicukupkan untuk diri sendiri.

Semua orang berpolitik, itu benar. Semua aktivitas manusia memiliki tujuan individu, kepentingan pribadi untuk dimiliki sendiri. Salahkah? Tidak, itulah kenyataan. Mengelak? Hanya menunjukkan tambahan alasan kepentingan. Mengambil sikap, nah itulah yang aku inginkan. Dan aku mengambil sikap tetap tenang, diantara derasnya arus informasi, plus minus, kenyataan dan gosip, isu hingga apa yang ada. Sikap Tetap Tenang Sebelum pemilihan Presiden 2014.

Terhadap informasi, haruslah skeptis, tidak mudah percaya. Dengan kata lain, selalu di cek, ditelusuri, hingga menemukan gambaran besarnya. Pribadiku mengatakan, jangan menjustifikasi/ menghakimi seseorang, atau melabelinya dengan sebuah sebutan, tanpa pemikiran, tanpa mengoleksi kepingan informasi, dan menyatukanya menjadi sebuah formasi, gambaran besar. Bahkan hingga sumber informasi terpercayapun, terdapat kepentingan, tersembunyi, pelik dan susah dimengerti.

Aku membenarkan sebuah pepatah, “Dalam Ketenangan ada keselamatan, dalam kecerobohan ada penyesalan.” Keep calm and trust your heart. Tetap tenang dan percayakan pada nuranimu, karna ia tak pernah menipu, walau otakmu, pikiran logismu mungkin tak bisa menyatu padu. Nurani atau hati kecil merupakan anugrah yang teramat berharga, bukan hanya organ pelengkap belaka, namun penunjuk jalan menuju kebenaran.

Bagaimana bisa tetap tenang, diantara gencaran informasi yang memojokkan, ada juga yang mengagungkan. Jawaban mudahnya, sabarlah. Tentu kau ingat teman “kesabaran adalah kunci keberhasilan.”

Lalu, bagaimana tentang mereka yang memojokkan dan mengagungkan salah satu pasangan (capres)? Let it be, biarkanlah. Setiap orang punya sikapnya masing-masing, inilah warna warni kehidupan, jangan ditolak apalagi ditentang.

sikap tetap tenang sebe  pemilihan presiden 2014

Sulit? Pastinya. Inilah yang dinamakan pembentukan karakter, mulai dari sikap, pembiasaan, kesabaran dan keistiqomahan. Ingat pelajaran sebelumnya, pertama kita bentuk sebuah kebiasaan (baik), kemudian kebiasaan itu akan membentuk kita. Saranku untuk teman-teman semua, keep calm and decide your choice on 9 of July. Jangan lupa, percayakanlah pada nuranimu J

Wallahu a’lam bishowab.

Categories: Catatanku Tags: , ,

Mendidik Heart, Head and Hand

Mendidik Heart, Head and Hand. Tak kan ada kesuksesan melainkan tulus diniatkan dari hati yang terdalam. Begitulah petikan singkat dari wawancara bersama ibu kepala sekolah yang kudatangi pagi tadi. Beliau dengan niat dan tekadnya mampu membawa sekolah dasar yang dulunya biasa saja menajdi tempat belajar yang diperhitungkan di bilangan kota Malang.

Tugas kuliah untuk materi supervisi pendidikan harus berbasiskan riset/ penelitian, begitulah dosen kami Prof. Dr. H. Djunaidi Ghony ketika menyampaikan pengantar perkuliahan di awal pertemuanya. Karena itu, setiap dari kami harus menuliskan kajian pustaka, juga melampirkan hasil penelitian di lapangan. Penelitian ini memang tidak terlalu mendalam, namun cukup untuk lebih memahamkan kami pada tataran kenyataan yang ada di lapangan. Mendidik Heart, Head and Hand.

Pagi tadi (30/5/2014) saya bersama teman pergi ke Sekolah Dasar Negri SDN 01 Mulyoagung, Dau, Malang. Disana kami bertemu ibu kepala sekolah, Ibu Siti begitulah guru dan siswa memanggilnya. Kami berbincang tentang supervisi kepala sekolah, khususnya dalam bisang pembelajaran.

Mendidik Heart, Head and Hand. Apa yang kami dapatkan adalah sebuah cerita panjang nan kompleks, namun satu hal yang membuat kami terkagum, niat tulus dan kegigihan beliau dalam mengembangkan lembaga pendidikanya. Kadang saya berfikir, bagaimana bisa ibu ini menggerakkan semua elemen yang ada di sekolah hingga masyarakat sekitar untuk memajukan pendidikanya, cerita demi cerita pun berlanjut dan kami asyik mendengarnya.

Bila diungkapkan semua ceritanya, mungkin perlu berleembar-lembar, namun akan disingkat saja. Ibu kepala sekolah selalu menitik beratkan pada hasil akhir dari proses pendidikan. Ketika hasil akhir yang diharapkan baik, maka prosesnya juga harus baik, bahkan hingga guru-gurunya pun harus baik. Hal ini senada dengan pernyataan K.H. Imam Zarkasyi, “Metode Mengajar lebih penting daripada materi, Guru lebih penting daripada metode, dan ruh guru lebih penting daripada guru itu sendiri”.

Apa yang terjadi di lapangan, ternnyata berbeda jauh dengan apa yang ada dalam lembaran buku. Bila di buku diterangkan baagaimana teknikk-teknik supervisi yang beraneka ragamnya, dalam lapangan kami mendapatkan terkadang hanya satu pendekatan/ metode dalam menjalankan supervisi pembelajaran.

Dari semua yang dikemukakan ibu kepsek, inti utama adalah ketanggapan kepala sekolah akan isu yang ada. Ketika ada sebuah isu yang diperkirakan akan memberikan dampak negatif, ibu ini langsung mengumpulkan guru-gurunya untuk dirembukkan bagaimana baiknya. Inti pertanyaanya, mau dibawa kemana anak-anak ini, menurut ibu/bapak guru yang bersangkutan bagaimana pelaksanaanya. Dengan adanya musyawarah dan keterbukaan guru-guru dalam forum, maka masalah akan lebih cepat terselesaikan dan prespektif tiap guru dapat kembali kepada jalur utama, jalur untuk mensukseskan siswa.

Selain itu, setiap interaksi adalah proses pendekatan dan pemahaman seerta pemberian bimbingan bagi guru-guru. Disaat guru-guru meminta tanda tangan untuk RPPnya, disitu bisa dimasukkan koreksian dan saran-saran untuk lebih memajukan siswa. Ketika bertemu di ruangan guru, ataupun dalam kantin, merupakan wahana sharing yang lebih efektif. Selain guru tidak merasa terbelenggu, mereka juga merasa bebas mengungkapkan keluhan dan hambatan yang dialaminya. Keterbukaan dan kejujuran menjadi kunci utama dalam interaksi ini.

Hasil evaluasi seperti nilai ulangan, try out UN dan hasil ujian menjadi cermin dari usaha tiap guru. Apa yang kurang perlu diperbaiki, yang baik perlu diberikan reward. Kekurangan yang ada cukup ditunjukkan kepada guru, kemudian dengan bijak memintanya untuk memperbaiki kualitas pembelajaran, tidak perlu punishment karna guru pastilah sudah mengerti apa yang dimaksud kepsek. Begitupula reward atau hadiah, tidak perlu berupa fisik dan bersifat materi, sebuah pujian dan dukungan sudah cukup menjadikan seseorang dihargai atas usaha kerasnya dalam mendidik siswa. “Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan” begitulah salah satu prinsip quantum teaching yang secara tidak langusng dilaksanakan di sekolah tersebut.

Kesimpulanku, mendidik haruslah diawali dari heart/ hati dimana niat tulus, ikhlas tanpa pamrih muncul untuk memajukan dan mengembangkan peserta didik. Heart akan menstimulus head/kepala atau otak untuk berfikir mencari jalan bagaimana realisasi/ pelaksanaan yang cocok untuk konteks sekolah tersebut. Maka head jika telah memiliki konsep, akan menggerakkan hand untuk bekerja dan melaksanakan apa yang telah dikonsepkan tadi. Dari hari menstrimulus kepala/ otak, kemudian menggerakkan tangan/ anggota tubuh. From heart, consepttualize in head, then deriver hand. Wallahu a’lam bishowab.

 

 

Categories: Catatanku Tags:

Gontor tidak berpolitik praktis

Sempat terkejut dengan pemberitaan Gontor yg mendukung salah satu capres. Gontor tidak berpolitik praktis. Ternyata, itu pernyataan dari satu orang alumni yang kemudian digeneralisasi secara paksa oleh pihak pemilik media penulis. Sehingga, terlihat seakan Gontor memihak salah satu capres, padahal logika yang digunakanya salah, premis minor dan mayornya memang benar, namun generalisasi yang digunakan salah, sehingga bisa dipastikan hasilnyapun salah. Opini seorang alumni tidak bisa mewakili dua orang atau lebih, apalagi yang dituliskan adalah nama lembaganya, jelas cara itu ngawur dan tidak masuk akal. Ilustrasinya sebagaimana dibawah ini:

Premis minor: ali adalah santri gontor = benar

Premis mayor: ali mendukung si A = benar

Kesimpulan: Gontor mendukung si A = salah

Bagaimana bisa ali disamakan dengan Gontor? Ali adalah seseorang, memiliki pandangan sendiri, opini sendiri dan kepribadian serta prilaku yang kesemuanya kembali pada diriinya sendiri. Bagaimana bisa dia disamakan dengan Gontor, sebuah lembaga besar, dimana banyak individu didalamnya, memiliki sistem, aturan dan tata cara sendiri yang telah diatur. Bahkan pimpinan pondok, atau ketua yayasan (badan wakaf) sekalipun, prilakunya tidak bisa langsung diafiliasikan dengan Gontor. Ada nilai-nilai luhur yang telah ditetapkan oleh  pendirinya, yang itu menjadikan sunnah pondok, prilaku pondok, dan lain sebagainya sehingga terbentuklah budaya Gontor.

Panca Jiwa dan Motto Pondok Gontor

Dari awal, Gontor telah menetapkan prinsip-prinsip serta motto bagi kelangsungan lembaga ini. Salah satu prinsipnya adalah “Berdiri diatas dan untuk semua golongan”. Orang waras manapun akan mengartikan bahwa Gontor tidak berafiliasi dengan salah satu golongan organisasi masyarakat, apalagi partai politik. Intinya, Gontor tidak berpolitik praktis. Gontor menerima semua golongan yang ingin belajar, tentunya dengan persyaratan dan ketentuan yang telah ditetapkan. Prinsip ini lebih menegaskan lagi bahwa Gontor dan alumninya diharapkan menjadi perekat ummat. Tidak berpolitik praktis, itu prinsip Gontor, alumninya dibebaskan untuk memilih mana yang baik menurut mereka.

Dalam falsafah Gontor, kebebasan tidak diajarkan kecuali setelah melaksanakan urutan motto pondok sebelumnya. Motto pondok Gontor adalah kriteria atau sifat-sifat utama yang ingin ditanamkan pada setiap santrinya, urutanya: (1) Berbudi Tinggi, (2) Berbadan Sehat, (3) Berpengetahuan Luas, (4) Berfikiran Bebas. Berfikir bebas tidak akan bisa dilakukan tanpa memiliki pengetahuan yang luas, maka luaskanlah pengetahuanmu dengan membaca dan melihat alam semesta hingga kau dapatkan hikmah darinya. Selengkapnya bisa dibaca di web reesmi Gontor http://www.gontor.ac.id/motto

Gontor juga memiliki panca jiwa; (1) Keikhlasan, (2) Kesederhanaan, (3) Berdikari, (4) Ukhuah Islamiyah, dan (5) Kebebasan. Panca jiwa adalah nilai-nilai yang dijiwai oleh suasana-suasana kehidupan di pondok Gontor. Nilai ini mendasari setiap kegiatan yang ada di Gontor. Penjelasan seutuhnya bisa dibuka di website gontor http://www.gontor.ac.id/panca-jiwa

Kembali kepada tema utama, Gontor memang berpolitik, namun Gontor tidak berpolitik praktis. Sekali lagi, Gontor tidak mendukung partai apapun, atau golongan masyarakat tertentu. Dalam pandangan Gontor, politik tertinggi adalah dengan pendidikan. Tentunya, pendidikan yang dimaksud bukan hanya sekedar transfer ilmu pengetahuan, namun juga transfer nilai-nilai sehingga terciptalah seorang insan kaamil. Dengan pendidikan, Gontor berusaha menghasilkan alumni yang bisa menjadi kader perekat ummat, demi memajukan bangsa Indonesia.

KH. Ahmad Sahal, salah satu pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, menegaskan, “Meskipun semua santri dan guru di Pondok ini adalah anak orang Muhammadiyah, Pondok ini tidak akan berubah menjadi Muhammadiyah. Dan meskipun semua santri dan guru di Pondok ini adalah anak orang Nahdhatul Ulama, Pondok ini tidak akan pernah berubah menjadi Nahdhatul Ulama.”

Begitulah kiranya tambahan klarifikasi atas berita tersebut. Akun twitter resmi Gontor (@PMGontor) juga telah mengklarifikasi berita tersebut, dengan memberikan sembilan tweeps.

Aslkm ikhwan tweeps.. menyikapi bbrp pemberitaan di luar ttg sikap gontor terkait hiruk pikuk pemilu, ada bbrp hal yg perlu kami sampaikan

1. Sejak didirikan pd th 1926, gontor secara lembaga tdk terjun ke dlm politik praktis

2. Gontor merupakan ponpes yg sdh diwakafkan pd umat Islam seluruh dunia, sehingga gontor berdiri di ataa dan untuk semua golongan

3. Gontor benar2 lembaga yg mandiri, tdk berafiliasi ke ormas atau parpol tertentu

4. Dengan samangat membangun negeri, Gontor mendorong aspirasi umat untuk menentukan pilihannya sendiri dlm Pilpres 2014

5. Gontor tidak mendukung capres tertentu. Gontor mendukung masyarakat untuk menentukan sendiri pemimpin pilihan umat

6. Jika ada pihak yg menyatakan bhw Gontor mendukung salah satu Capres, itu tdk benar. Sekali lg, gontor tdk berpolitik praktis

7. Untuk para alumni, diberi kebebasan dlm menentukan pilihannya, tp mohon dg sangat untuk tdk mbawa gontor secara lembaga.

8. Gontor ttp pd komitmen awal untuk menjadi perekat umat, mencetak kader pemimpin umat.

9. Demikian ikhwan tweeps pernyataan kami, mohon untuk disebarluaskan. Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Bijak dan selektif dalam menerima informasi, merupakan satu dari akhlak seorang muslim sejati.

Categories: Pondok Gontor Tags:

Peringatan Isra Mi’raj 1435/2014 di dusun Areng-Areng

Kepanitiaan, musyawarah, lomba dan pengajian merupakan rangkaian acara peringatan Isra mi’raj pada 27 Rajab 1435 H di dusun areng-areng. Dusun dimana kebanyakan dari kami mahasiswa pasca UIN Maliki Malang, bertempat tinggal baik kos maupun kontrak rumah. Peringatan Isra Mi’raj 1435/2014 di dusun Areng-Areng.

Kegiatan ini diawali dengan dikumpulkanya kami oleh para tokoh dusun areng-areng, pak. Nur Widodo sebagai koordinator utama, pak Bakin sebagai tokoh agama dan pak Kasan sebagai ketua rukun tetangga. Perkumpulan pertama di mushola menghasilkan bahwa dusun ini perlu penggerak dalam bidang keagamaan dan itulah kami, kemudian dipadukan juga dengan remaja musholla dimana mereka lebih mengetahui tempat tinggal sendiri.

Peringatan Isra Mi’raj 1435 h/ 2014 UIN Maliki Malang di dusun Areng-Areng

Setelah berpadu antara kami yang disebut sebagai kaum muhajjirin, dan kaum ansor sebutan bagi remaja musholla, maka dirumuskanlah acara apa saja yang akan diadakan. Walhasil, tersusun acara lomba adzan, pidato, merangkai huruf hijaiyah, balap kelereng sendok, memasukkan paku dalam botol, dan makan kerupuk. Peringatan Isra Mi’raj 1435/2014 di dusun Areng-Areng.

Bukan perkara mudah bagi kami untuk beradaptasi dan mempersiapkan segala kebutuhan lomba dalam dua hari kedepan, namun ternyata persiapan bisa memadai dan terlaksana dengan baik. Terimakasih kami ucapkan kepada donatur, dan panitia yang telah memberikan sumbangan tenaga dan fikiran demi terlaksananya acara ini.

Acara ini dimulai malam hari setelah isya untuk lomba hafalan surat-surat pendek, kemudian pagi hari diteruskan dengan lomba adzan dan merangkai huruf hijaiyah. Sorenya, lomba balap kelereng sendok, makan kerupuk dan memasukkan paku dalam botol. Malamnya, kami mengadakan pengajian bersama masyarakat sekitar dusun. Kecil memang areanya, namun cukup memberikan pelajaran berharga bagi kami.

Bila dilihat, acara ini bukan hanya sebuah rentetan kegiatan. Namun lebih dari itu, didalamnya kami bisa lebih mengenal, mengetahui karakter satu dengan yang lainya, mengerjakan apa yang terbaik bagi terselenggaranya acara, berkonsultasi dengan tokoh masyarakat, hingga berkolaborasi dengan remaja musholla al-amin. Kesemuanya sanagt berharga, karena tidak akan didapatkan lewat bangku kuliah. Kebersamaan, tolong menolong, komitmen, pengorbanan, misi dakwah merupakan rangkaian kata indah untuk menggambarkanya.

panitia isra mikraj 1435h/ 2014 uin malang dadaprejo

Pelajaran menarik dari hal ini, adalah dimanapun kita tinggal, sebaik mungkin kita memberikan kontribusi bagi penduduknya. Istilah lainya, dimanapun kakimu berpijak, disitu kamu bertanggung jawab atas keislamanya. Kelebihan individual tak akan berguna bila tidak ada kebersamaan. Itulah manusia, bila tangan dengan lengan, maka seseorangg haruslah dengan teman, yang mendukung, membantu dan menyemangati kita. Memberikan kebaikan kepada oranglain, tidak akan pernah merugi, sebaliknya ia akan membuka pintu-pintu rejeki dan keberkahan dari arah yang tidak kita sangka-sangka. Wallahu a’lam.

 

Categories: Catatanku Tags: , ,

Buatlah kenangan sebelum perpisahan

Buatlah kenangan sebelum perpisahan. Waktu berlalu, manusia datang dan pergi, silih berganti mengisi kehidupan ini. Terasa senang pertama berjumpa, sedih sebelum berpisah. Inilah skenario kehidupan, manusia hanya akan hidup dalam kenangan seorang setelahnya, maka tinggalkanlah kenangan baik bagi generasi selanjutnya.

kenangan bersama temanWalau masih satu tahun lagi dalam masa studiku, namun perpisahan bersama teman-teman seakan sudah didepan mata. Terbayang tak ada lagi canda tawa, ledekan-ledekan tar terencana, hingga bersama menghimpun kekuatan tuk sebuah kebersamaan. Mungkin terlihat sedikit mendramatisir, tapi itulah yang ada. Kesedihan pasti ada, karena kita manusia. Buatlah kenangan sebelum perpisahan.

Lalu aku mulai berfikir, apa sebenarnya yang dicari dalam sebuah relasi? toh ketika berpisah semuanya juga sudah usai. Apa yang lebih berharga dari sebuah hubungan manusia? Agar kita tetap terjaga antara satu dan lainya, mungkin sebuah memori. Jikalah itu ada benarnya, maka ukirlah namamu dengan kebaikanmu, ukir ingatanmu dengan sebuah keharmonisan, kebersamaan, kekompakan, dan kesatuan.

Berjalanya waktu terus membenarkan pesan kyaiku. Hidup sekali hiduplah yang berarti. Pertemuan hanyalah sekali, maka buatlah pertemuan itu berarti. Saling menolong, itu hanya bagian kecil, mudah dilakukan, namun berdampak besar, menguatkan satu dengan yang lainya. Berjalan bersama, beraktifitas bersama teman-teman, menggantungkan mimpi setinggi awan akan meringankan beban. Buatlah kenangan sebelum perpisahan.

Berbuatlah untuk orang banyak, hingga seakan engkau adalah seribu orang. Jangan hanya berpangku tangan sebagaimana seribu orang namun seakan tak kelihatan. Lepaskan belenggu kepentingan individu, untuk kepentingan bersama. Ajaklah kawan untuk merapatkan barisan. Jangan biarkan amarah mengendalikanmu, tapi kontrollah mereka agar kau bisa maju.

Jadikanlah kesabaran sebagai jalan istiqomah. Gagal sekali, coba lagi! Karena apa yang ada sekarang, tak mungkin terulang. Bila memang terulang, mungkin pertanda kemunduran, namun waktu kan terus berjalan. Tebarkan kebaikan, singkirkan kejahatan, termasuk apa yang ada dalam hati.

Sesungguhnya tangan bergerak dan menggerakkan bersama lengan, maka manusia mutlak membutuhkan teman. Kecocokan perlu dipupuk, ketidak cocokan perlu diperbaiki. Memang terkadang teman mendekatkan kemungkaran, namun ia juga mendekatkan pada kebaikan. Apa yang perlu diperhatikan, adalah menjaga arah tujuan hingga tak terkapar dalam sesat malam.

Janganlah takjub pada kehancuran disebabkan perbuatan manusia, namun lihatlah bagaimana seseorang bisa menghasilkan sebuah karya. Amati, pelajari, dan buatlah karyamu sendiri. Sesungguhnya manusia adalah apa yang dikenang orang setelahnya, maka buatlah kenangan yang baik bagi mereka setelah anda.

وَالنَّاسُ أَلْفٌ مِنْهُمْ كَوَاحِـدٍ

#

وَوَاحِـدٌ كَاْلأَلْفِ إِنْ أَمْرٌ عَنىَ

وَآفَةُ العَقْلِ الهَوَى فَمَنْ عَـلاَ

#

عَلـىَ هَـوَاهُ عَقْلُهُ فَقَدْ نَجَـا

عَوِّلْ عَلىَ الصَّبْرِ الجَمِيْلِ فَإِنَّهُ

#

أَمْنَعُ مَـا لاَذَ بِهِ أُوْلُو الحِجَـا

لاَتَعْجَبَنَّ مِنْ هَالِكٍ كَيْفَ هَوَى

#

بَلْ فَاعْجَبَنْ مِنْ سَالِمٍ كَيْفَ نَجاَ

وَإِنَّمَــا المَرْءُ حَدِيْثٌ بَعْدَهُ

#

فَكُنْ حَدِيْثًا حَسَـناً لِمَنْ وَعىَ

Categories: Catatanku Tags: ,

Membentuk Kebiasaan diri

Your habits it’s you! Kamu adalah kebiasaanmu. Membentuk Kebiasaan diri. Ingin jadi baik? Tumbuhkan dan biasakan kebiasaan baik. Gak mau jadi baik? Atau biasa-biasa saja, anda pasti tertinggal dan bisa jadi tergilas oleh waktu. Bila anda tidak bisa mengontrol waktu, maka waktu akan mengontrolmu.

cara mengubah kebiasaan kitaItulah petikan quote kemarin, jum’at 23/5/14 ketika kuliah bersama Dr. H. Nur Ali, M.Pd. Hasil karya yang hebat selalu diikuti budaya disiplin yang tinggi oleh pelakunya. Tanpa disiplin, tak mungkin seseorang maju. Andaikata dia memang maju tanpa disiplin, itu pastilah semu dan akan runtuh seiring berlalunya waktu.

How to shape your habits? Bagaimana merubah atau membentuk kebiasaan kita? Itulah yang menjadi pertanyaan utama. Bagi mereka dengan komitmen tinggi, “just do it!” mungkin sudah cukup. Namun, bagi orang biasa seperti saya, membuat jadwal kegiatan mungkin diperlukan. Bukan saja sebagai patokan dan jalan menuju kesuksesan, namun menjadi tolak ukur pancapaian kita dalam proses pembentukan kebiasaan.

Setelah jadwal, whats next? Do it! Lakukan jadwal yang anda buat. Ingat pepatah yang mengatakan “Siapa yang sabar akan beruntung?” ya, itu salah satu kuncinya. Bila kita sabar dalam proses, dan teetap istiqomah melaksanakanya secara terus-menerus dan berkesinambungan, maka tak ada hadiah yang patut anda dapatkan kecuali kesuksesan. Jalan ini sungguh terang dan jelas, namun hanya sedikit yang menapakinya.

Kegiatan dalam jadwal akan lebih terpatri daalam diri bila memiliki kaitanya dengan apa yang kita tuju. Ingin cepat selesai menulis skripsi atau thesis, jadwallah kegiatan menulis, ingin bugar sehat jadwallah olahraga, ingin mendapatkan hikmah dan ilmu pengnetahuan, jadwallah kegiatan baca buku dan aktifitas refleksinya. Jangan lupa juga, setiap kegiatan harus disertai ilmunya agar sukses. Siapa yang ingin sukses di dunia, maka harus dengan ilmu, begitupula sukses dalam kegiatan, harus dengan ilmu.

Classical Conditioning, sebuah teori dalam dunia psikologi, secara jelas mengatakan bahwa learning harus by association. Sebuah proses pembelajaran akan lebih berhasil bila diikuti dengan adanya stimulus yang mendorong kita melaksanakan sebuah proses aktivitas. Dalam membentuk kebiasaan, kita bisa membuat alarm, simbol atau bahkan meminta teman untuk mengingatkan kita agar melakukan jadwal yang telah direncanakan. Ketika dilakukan terus-menerus, maka kebiasaan akan muncul, dan anda tau apa yang akan anda terima bila telah terbiasa…

Halangan dan rintangan? Pastinya ada dan banyak. Kita tidak bisa malam sekitar kita, namun kita bisa mengubah prespektif dan diri kita sendiri. Kita adalah layar perahu kita sendiri. Kemanapun ombak menerpa, kemanapun angin bertiup, namun kitalah yang menentukan arah perahu kita, bukan oranglain. Keyakinan? Mutlak diperlukan! Jangan tanya mengapa? Anda akan hanyut atau tergilas tak tersisa tanpa keyakinan. Maka berdoalah, mendoakan dan meminta do’a, itulah penguat kita.

Akhirnya, selamat membuat jadwal kegiatan. Semoga kita diberikan kekuatan, istiqomah dan kesabaran dalam melaksanakanya. Quality is not an act, it is a habit [Aristotele]

 Mengubah kebiasaan dalam al-quran

Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’. [al-baqoroh: 238]

Merayakan Selesainya Ujian dan kelulusan di Gontor

Coret-coret baju dan konvoi setelah mengetahui kelulusan? Itu bukan budaya kami. Naik motor bersama berkeliling bersama teman-teman memang asyik, coret-coret baju dengan pilok memang menyenangkan. Namun, kami tidak melakukanya. Karena kami tau kami berharga.

Bagaimana Merayakan Selesainya Ujian dan kelulusan di Gontor? Sebagaimana kalian, kami juga bergembira bila ujian telah berakhir. Seakan merasakan kepuasan yang sangat, karena bukan hanya ujian formal yang berisi soal-soal full esay sebanyak dua puluahn pelajaran, tidak juga ujian lisan dengan pertanyaan dari kelas satu hingga tingkat akhir, lebih daripada itu, kami telah melewati tahap ujian mental. Ujian dimana kami harus tetap berjalan pada ketentuan disiplin yang tak pernah dilonggarkan, tetap berjuang demi kelulusan studi, dan tetap bersabar dengan segala keadaan yang ada.

Kembali kepada judul, Merayakan Selesainya Ujian dan kelulusan di Gontor? Setelah ujian berakhir, kami keluar ruangan ujian dengan senyum bahagia, ada juga yang tertawa hingga yang menangis terharu. Kami langsung dipadu, berjalan bersama-sama menuju masjid, bersyukur kepada Allah dengan melakukan sujud syukur. Setelah itu kami juga diarahkan, diberitahu bahwa ujian ini bukanlah akhir dari cobaan. Setelah ujian ini, akan banyak tantangan, utamanya dalam kehidupan. Tantangan itu semakin tinggi dan menggoyahkan, namun tetep memiliki bentuk yang sama. Siapa yang berjuang dan sabar dalam menjalaninya, akan lulus dan berhasil sebagaimana saat ini kami rasakan.

Perayaan Kelulusan ujian di gontor

Sujud Syuuykur setelah ujian akhir di Gontor

Lalu, kami diamanahi untuk menjadi penguji  bagi adik—adik kelas kami. Ujian lisan, ya kami juga harus membuat pertanyaan-pertanyaan dalam sebuah buku tulis dan harus full. Esoknya, diperiksa/ ditashih oleh para guru senior agar dipastikan tidak ada kesalahan dan kekurangan. Ketika ujian tulis, kamipun sebagian menjadi pembantu panitia ujian, ada juga yang menajdi pengawas ujian dikelas-kelas.

Menjadi pengawas ujian tulis bukan perkara mudah bagi kami. Kami diawasi oleh guru pengawas ruang, guru ruangan diawasi oleh pengawas gedung, pengawas gedung diawasi lagi oleh pengawas area, pengawas area diawasi lagi oleh direktur KMI, dan direktur KMI dimintai laporanya oleh pengasuh dan pimpinan pondok. Pengawasan berganda, ya… itulah namanya. Membocorkan jawaban? Jangan mimpi. Memberikan isyarat akan jawaban saja sudah termasuk pelanggaran dan bisa diskors walau ujian akhir telah diselesaikan.

Setelah ujian selesai, kami mengadakan studi tour ke berbagai tempat, utamanya pondok dengan pembiayaan yang mandiri, tempat usaha para alumni hingga instansi dakwah umum, namun tak lupa juga ada hiburan ke tempat wisata di akhir perjalanan. Dalam kunjungan ini kami dikenalkan pada dunia bisnis, dunia pendidikan dan perjuangan, dunia dakwah dan lebih utamanya dikenalkan akan kehidupan di masyarakat. Supaya menjadi bekal ketika terjun ke masyarakat, agar ikut membantu pembagunan, bukan menjadi pembawa masalah bagi kehidupan.

Studi tour selesai, kami masih dibekali selama seminggu full dari pagi hingga malam.  Berbagai hal, mulai dari motivasi, cara mengajar anak kecil, dunia kesehatan, politik, budaya hingga pemikiran Islam. Tentunya tak lupa juga orientasi setelah kelulusan kami dari pondok, mau kemana, mencari apa dan bagaimana jalanya. Selain itu, dokumentasi-dokumentasi juga dikumpulkan menjadi mozaik, sehingga bisa menjadi patokan dan contoh untuk terjun ke masyarakat.

Yudisium. Ya, itulah akhir dari masa-masa kami sebagai siswa Gontor. Yudisium bukan hanya ppemanggilan nama dan pengumuman kelulusan. Namun merupakan ajang pembagian tugas baru, yang dinamakan pengabdian. Ada yang harus membantu di pondok Gontor beserta cabangnya, ada juga yang ditugaskan mengajar di pondok yang didirikan alumni Gontor, hingga mereka yang ditugaskan di tempat-tempat tertentu. Kami bersyukur atas kelulusan, dan juga tertantang untuk membuktikan kemampuan. Semangat kami menyala terang, siap menjalankan amanah dari pimpinan untuk mengabdi di tempat tujuan.

Pengabdian bukan juga sebuah akhiran. Ada yang bertahan dalam pengabdian dan mendapatkan ijasah dari pondok, ada juga yang tidak kuat sehingga harus terpental. Kami selalu diberi pesan, ijasahmu adalah kemampuanmu, ijasahmu adalah pengakuan masyarakat atas kontribusimu, bukan hanya dalam selembar kertas. Kertas  ijasah hanyalah pelengkap, bagi keridho’an kyai atas kelulusan kami, dan restu beliau bagi kami untuk menjalani kehidupan diluar pondok. Fi ayyi ardhin tatho’u, anta mas’uulun an Islamiiha (dimanapun kamu berpijak, disitu kamu bertanggung jawab atas keislamanya), merupakan misi kami.

Begitulah ceritanya. Kami tidak mencoret baju karena itu adalah tanda perjuangan kami. Kami tidak berkonvoi karena kami tau keberhargaan kami. Kami belajar lagi, karena kami tau tantangan masa depan. Kami bergerak, karena kami harus memberikan kontribusi bagi masyarakat, dan bukan menjadi pembawa masalah bagi mereka. Kami selalu berusaha menajdi orang yang berguna. Sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi manusia lainya.